Home

10 Tips mendidik anak tanpa kursus dan biaya mahal – Pelajaran dari buku “Parent with No property”

Leave a comment

dscn2690

Han, HS (2013). Parent with no property. B First : Jogjakarta

Buku ini meruntuhkan anggapan bahwa bila ingin berhasil dalam pendidikan harus melalui pendidikan khusus (kursus). Karya penulis Korea Han Hee-Seok ini menceritakan  pengalaman pribadinya dalam mendidik anak sehingga berhasil sampai perguruan tinggi di tengah keterbatasan finansial. Inti dari keberhasilannya adalah totalitasnya untuk terlibat secara aktif pada pendidikan Geoul, putri sulungnya. Totalitas menjadi coach dalam proses belajarnya. Berikut adalah tips-tips suksesnya : More

Advertisements

Ayahku (bukan) pembohong – The Quotes

Leave a comment

DSCN1884

by Tere Liye

  • Ayah pernah bercerita bahwa suku Penguasa Angin bisa bersabar walau beratus tahun dizalimi musuh musuh mereka ? suku itu paham, terkadang cara membalas terbaik justru dengan tidak membalas
  • Ah yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bukankah Ayah sudah berkali-kali bilang, bahwa kebanyakan orang justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain (38)
  • Kau tahu Dam, laksamana Andalas terkenal di seluruh dunia, dihormati anak buah, teman-temannya, disegani musuh-musuhnya karena disiplin dan selalu tepat waktu
  • Ilmu pengetahuan adalah proses kontemplasi panjang. Ketika kepala kalian digunakan untuk merenung, berpikir terus-menerus, bukan sekedar hiasan atau lelucon (119)
  • Alim khan menjelaskan pemahaman hidup yang sederhana, kerja keras, selalu pandai bersyukur, saling membantu (140)
  • Suku penguasa angin sungguh tidak memenangkan pertempuran melawan penjajah. Mereka memenangkan pertempuran melawan mereka sendiri, melawan rasa tidak sabar, menundukkan marah dan kekerasan di hati
  • Kami tidak mendidik kalian sekedar mendapatkan nilai diatas kertas. Seluruh kehidupan kalian tiga tahun terakhir, dua puluh empat jam, baik di kelas ataupun tidak adalah proses pendidikan itu sendiri. Itulah penilaian yang sebenar-benarnya. Kau lulus dengan baik (241)
  • Nah, Dam . selamat melanjutkan hidup. Apa kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tidak perduli seberapa menyakitkan aau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat berikutnya di luar sana (242)
  • Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahuin berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak,kabar baik, keberuntungan, harta benda yang dating, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu dating dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, Itu semua juga dating dari luar. Saat semua itu dating dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan (292)
  • Apakah Ayah dan Ibu kau bahagia? Kalau kau punya hti yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya , termasuk kesedihan karena cemburu, iri atau dengki dengan kebahagiaan orang lain. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, kekuasaan, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikitpun beningnya kebahagaiaan yang kau miliki (294)
  • Para sufi dan orang-orang berbahagia di dunia harus bekerja keras, membangun benteng, menjauh dari dunia, melatih hati siang dan malam. Hidup sederhana, apa adanya, adalah jalan tercepat untuk melatih hati di tengah riuh rendah kehidupan hari ini. Percayalah, memiliki hati yang lapang dan dalam alah konkret dan menyenangkan, ketika kita bisa berdiri dengan seluruh kebahagiaan hidup, menatap kesibukan di sekitar, dan melewati hari-hari berjalan, bersama keluarga tercinta (299)

Summarized by @astumd (6 Agustus 2016)

Membangkitkan Minat Baca

Leave a comment

Conceptual Books

Mungkin tidak banyak yang tahu (termasuk saya) bahwa sejak tahun 1995 tanggal 23 April ditetapkan oleh UNESCO sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day) yang bertujuan untuk menggiatkan masyarakat dunia untuk membaca dan menghargai buku. 23 April diambil dari festival Catalonia, yaitu tradisi bangsa Spanyol di Catalonia yang juga bertepatan dengan St. George’s day dimana pada festival tersebut, pria memberikan mawar untuk wanita yang dicintainya sedangkan sebagai  timbal balik, kaum wanitanya memberikan buku. 23 April juga tanggal lahir atau kematian penulis-penulis besar seperti Shakespeare (Hamlet), Miguel de Cervantes (Don Quisote), Inca Garcilaso de la Vega, Josep Pla, Maurice Druon, Vladimir Nabokov, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness.

Budaya Literasi di Indonesia

Lalu seberapa besar ya budaya literasi bangsa ini? Yah begitulah.. masih sangat rendah. Berbagai surveypun membuktikan. Minat baca anak SD di Indonesia ranking 36 dari 40 Negara (PIRLS) , untuk mendapatkan informasi,  Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (BPS 2006), kemampuan membaca murid-murid kelas 4 SD urutan ke 29 dari 30 negara (IAE 1992)

Menurut Sabarudin Tain, Ketua komunitas Minat Baca Indonesia. Berdasarkan hasil terakhir tahun 2009 Perbandingan penduduk dan surat kabar di Indonesia sangat jomplang  1:43, artinya jumlah penduduk mencapai 207 juta jiwa sementara surat kabar hanya 4,8 juta. Kalah jauh dibandingkan negara-negara Asia lainnya seperti Malaysia (1:1,81) , Jepang (1:1,74), bahkan India (1:38,4)

Hal ini diperparah dengan angka buta huruf yang masih cukup tinggi Menurut Republika, pada akhir tahun 2010 diperkirakan tersisa 8,3 juta orang (4,79 persen), sedikit lebih baik dibanding 2009 yang mencapai 8,7 juta orang (5,3 persen). Dari jumlah itu sebagian besar penduduk berusia di atas 45 tahun (70-80 persen) dan berjenis kelamin perempuan (64 persen).

Manfaat Membaca

Dengan memiliki kegemaran membaca banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh. Menurut DR. Aidh Abdullah Al-Qarni, pengarang buku La Tahzan (Jangan Bersedih), ada 10 manfaat yang bisa kita dapatkan yaitu

  1. Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan
  2. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau  bekerja.
  3. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
  4. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
  5. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan mengingkatkan memori dalam pemahaman.
  6. Dengan sering membaca seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksana dan kecerdasan para sarjana.
  7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya di dalam hidup.
  8. Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku-buku yang bermanfaat.
  9. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia,. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalima.
  10. Lebih lanjut lagi, ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis di antara baris demi baris (memahami apa yang tersirat).

Penyebab rendahnya minat baca

Penyebab rendahnya minta baca di Indonesia memang kompleks dan multifaktorial. Berikut akan kami bagi menjadi beberapa point penting.

[1] Faktor orangtua

Tidak adanya stimulasi dini yang cukup dari orangtua agar anaknya gemar membaca. Kadang mereka terlalu sibuk bekerja sehingga tidak sempat untuk mendidiknya dengan baik.

Seringkali orangtua melarang anaknya untuk membaca cerita bergambar, komik. menganggap anaknya malas belajar dan bodoh Padahal komik bisa menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengembangkan imajinasi, serta ragam bacaannya tingkat yang lebih luas dan tinggi. Karena apa yang dibaca sesungguhnya mengikuti perkembangan wawasan, cara berfikir, dan kebutuhan pembacanya.

Banyak orangtua yang tidak paham akan pentingnya membaca, keteladannya minim sehingga anak tidak dididik agar gemar membaca. Tidak ada akses bahan bacaan yang cukup memadai di dalam rumah. Tidak ada penciptaan suasana bahwa membaca itu menyenangkan

[2] Faktor perpustakaan

Di Indonesia hanya 1% lebih sedikit sekolah yang mempunyai perpustakaan. Dan secara kuantitas dan kualitas seringkali tidak memadai. Tidak update dan koleksinya tidak terawat sehingga usang dan berdebu. Kalau sudah begini bagaimana anak akan suka membaca.

Perpustakaan kurang  kreatif dan promotif jadi ya tetap terkesan membosankan coba dibuat inisiatif seperti book-café, atau dengan event kreatif seperti seminar, pelatihan untuk membaca cepat, pelatihan untuk menulis. Jadikanlah lingkungan perpustakaan begitu nyaman dan menyenangkan.

[3] Kurikulum

Anak-anak sering mengalami trauma dalam tahap pramembaca atau post membaca. Diberi bacaan yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Misalnya belum-belum anak sudah diberi bahan bacaan tanpa gambar, tulisannya kecil-kecil. Sehingga menimbulkan pengalaman yang traumatik

Tidak terintegrasinya antara kurikulum dan kewajiban membaca buku. Di Luar Negeri setiap murid ada  semacam bahan bacaan wajib yang harus mereka baca.  perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku!

Solusi

Untuk solusinya memang memerlukan kerjasama dari berbagai elemen. Mulai dari orangtua, hendaknya membiasakan sekaligus member teladan bagi putera-puterinya untuk membaca. Misalkan untuk usia dini anak mulai diperkenalkan dengan apa yang namanya buku. Mungkin berupa cerita bergambar sambil bercerita. Memori indah ini akan membentuk kebiasaan untuk membaca di kemudian hari

Untuk pemerintah berkolaborasi dengan dunia pendidikan, media massa dan gerakan masyarakat untuk mencari sponsor dari pihak swasta yang memang concer dengan dunia pendidikan dalam mendirikan sudut-sudut baca tau perpustakaan-perpustakaan kecil. Bisa dari swadaya masyarakat itu sendiri. Expose media berkaitan dengan budaya literasi dengan hadiah-hadiah menarik juga setidaknya dapat menarik minat baca masyarakat.

Untuk perpustakaan daerah mestinya ada dana dari pemda setempat juga menggandeng perusahaan-perusahaan swasta untuk melakukan inovasi baik dari pelayanan maupun infrastruktur. Misalkan saja di perpustakaan kota Surabaya. Sudah bagus seperti dalam perpustakaan juga diputar music-musik klasik atau kadang juga top 40 untuk merangsang otak kanan (Quantum Learning), ada fasilitas wi-fi, dan sering ada event-event menarik serba gratis seperti Kelab Penulis Cilik, Parenting Class, Workshop Indonesia Bercerita, Kelab penulis muda dsb. Artinya perpustakaan membuka seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menggunakan fasilitas yang ada. Selain itu juga ada program perpustakaan keliling dan sebagainya.  Salut untuk perpustakaan kota Surabaya

Untuk perpustakaan sekolah hendaknya selalu update. Difasilitasi oleh pemerintah maupun pihak pendidikan. Dibuat nyaman dan menyenangkan. Dan bila berhasil, akan menciptakan iklim penerbitan buku yang ideal untuk pihak penerbit sendiri maupun penulisnya.

Saya yakin bila masyarakat Indonesia gemar membaca dan menulis, suatu saat Indonesia akan menjadi bangsa berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri). Selamat membaca! (@astu_MD)

Reference

 

Catatan @astumd

Surabaya, 27 April 2011

90 menit bersama Gol A Gong – Pejuang Literasi

Leave a comment

Di usia SD Gol A Gong atau yang lebih akrab dipanggil mas Gong harus kehilangan sebelah tangan, hingga siku, karena kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan yang mengubah hidup karena ayah mas Gong,

seorang guru, memb20141104_172041isikkan sebuah kata ajaib “Banyaklah membaca maka engkau akan lupa bahwa engkau mempunyai kekurangan” Sejak saat itu mas Gong kecil mejadi “gila” baca. huruf demi huruf seakan hidup, menari, memberi nutrisi otak, menyambung sinaps-sinaps neuron yang kelamaan akan meledak menjadi karya.

Ia kerap membuat sandiwara radio, artikel yang ia cetak sendiri dengan stensil ayah. koleksi bukunya pun makin bertambah hingga 3000 koleksi pada saat SMA.
Mas Gong lalu melanjutkan pendidikan di fakultas sastra namun pada saat semester 5 ia memutuskan untuk berhenti karena ia tidak suka melihat cara dosen mengajar, silabus dan sistem pendidikan. Pernah pada saat ujian ia duduk dibelakang sendiri lalu melihat di teman-teman yang didepan contek-contekan. marah ia pun langsung begitu saja meninggalkan kelas. Pernah pula ia ditanya oleh seorang dosen “Mengapa kamu sering tidak masuk kuliah?” “Karena pada saat saya masuk bapak tidak ada,pada saat bapak masuk saya tidak ada. seharusnya saya yang bertanya kepada bapak karena saya membayar uang sekolah”

“Banyaklah membaca maka engkau akan lupa bahwa engkau mempunyai kekurangan”

Keinginannya meninggalkan bangku kuliah ini ia utarakan kepada kedua orangtuanya. Ia ingin berkelana, menjadi backpacker, belajar langsung dari kehidupan, belajar langsung dari alam karena kata orang padang alam adalah guru yang baik. Alhasil pada tahun 1988 setelah riset selama 5 tahun, mas Gong berhasil menelurkan sebuah novel Balada si Roy. Editor pertama adalah ibunya sendiri. Dalam bahasa sunda ia berkata “Nak engkau harus membawa pembacamu melalui jalan setapak menuju mata air” artinya tulisan harus membawa pengaruh positif untuk pembaca.

Balada si roy akhirnya dimuat secara berseri di majalah “Hai” dan dalam waktu dekat inshaAllah akan tampil di layar lebar

Tentang keluarga
Mas Gong menikahi seorang wanita yang juga penulis. konon ia mengaudisi calon pasangan hidupnya dengan menantangnya membuat puisi. Menurut mas Gong, rumah harus banyak buku, ciptakan lingkungan literasi. maka tanpa perlu disuruh, anak-anak akan meniru yang dilakukan oleh orangtuanya. Pada umur 7 tahun anak mas gong juga sudah membuat buku lho. Mungkin dalam keseharian lanjut mas Gong ia seringmelihat ayahnya membaca, mengetik lalu disekitarnya banyak sekali buku. Lead by examples. Memberi tauladan seperti zaman Nabi

Rumah Dunia
Mas Gong mempunyai misi menghidupkan literasi. dimulai di sekitar rumahnya di Banten, Ia mendirikan rumah dunia, mengundang siapa saja pemulung, pegamen, pengusaha, pedagang gorengan untuk mencintai dunia sastra. Seperti kita tahu di Indonesia budaya literasi sangat kurang, padahal literasi adalah simbol peradaban.
Tak jarang mas gong harus “mengiming-imingi” dengan kue, dengan uang agar mereka mau membaca buku, membaca orasi atau puisi. Puisi adalah satu metode, menghidupkan seluruh indera, salah satu jalan kita untuk mencintai sastra. Kita mungkin Ingat Umar Bin Khattab berkata “Ajarkanlah anakmu seni/karya sastra, agar hatinya lembut. Ketika hati sudah lembut maka ia akan mudah menerima kebenaran. Perjuangan mas Gong tidak sia-sia, banyak sudah anak didiknya yang sudah membuat buku, duta unicef, dikirim ke Leiden,wartawan, editor koran ternama, berhasil terangkat derajatnya, berkat menulis.
Pada saat ini mas Gong tengah melakukan Tur literasi jawa dari Anyer sampai Panarukan. Jalan pos Daendels. Napak tilas leluhur kita yang banyak kehilangan nyawa dalam membangun jalan. Selama perjalanan ia banyak mengadakan diskusi, mengadakan workshop, berbagi tentang literasi di berbagai komunitas.Silih berganti relawan rumah dunia terus menyalakan “lilin” menerangi dunia, tanpa bantuan mereka, kata mas Gong. rumah dunia tidak akan berjalan dengan baik

Terakhir ia memberi tips jika engkau ingin menjadi penulis maka banyak-banyaklah membaca, harus punya solidaritas beli bukunya, hadir saat book signing, mintalah tanda tangan dan bersalamlah dengannya. agar terikat batin antara pembaca dan penulis. jangan lupa bahwa suatu saat engkau akan duduk dan memberi tanda tangan bukumu.

@astu_MD