Jadi dokter? tidak perlu pandai

Keep Calm and Study Hard

One of my best time? Mungkin saat di Angkot. Lhoh kenapa? Karena disitulah waktu saya untuk membaca buku. Sejenak rehat dari penat setelah berkutat dengan jurnal ilmiah, diskusi intens dengan pembimbing, merawat pasien dan menulis thesis. Seperti Oasis. walau kadang berteman dengan debu dan keringat.

Buku yang dibaca bisa macem-macem. Religi, filsafat, novel populer, manga, sastra, biografi, puisi, buku motivasi. Berevolusi sesuai umur dan zaman. mulai waktu naik angkot ke SMP 1, SMU 2, Kuliah di FK UNAIR, Dokter Muda sampai sekarang jadi PPDS. Buku-buku ini mengajarkan banyak hal tentang hidup. menyelami kehidupan orang lain sekaligus cermin untuk diri sendiri. Menambah wawasan, membuat kita jadi lebih bijak, lebih setrong sekaligus lebih lembut, memaknai setiap momen yang kita alami.

Contohnya nih seperti buku yang sedang saya baca, “Chicken Soup for the Soul : Think Possible” kumpulan 101 cerita yang inspiratif. Salah satu yang menggugah adalah cerita dari Robin L. Reynolds. Alkisah pada saat di tempat praktik dokter, umur 17 tahun dia ditanya “Jadi Robin, apa rencanamu setelah lulus SMA?” Haah “Saya belum tahu” Ia sangat ragu karena hampir seluruh keluarganya tidak ada yang menyelesaikan strata satu. Bukan bibit yang bagus pikirnya.

“Kau tidak tahu? Hmm, mengapa kau tidak kuliah untuk menjadi dokter seperti aku?”
Tanpa pikir panjang Robin mengungkapkan apa yang ia yakin benar
“Saya tidak cukup cerdas untuk menjadi seorang dokter”

Waktu pun seolah terhenti. Dokter itu menghentikan seluruh aktivitasnya. memandang Robin lekat-lekat lalu berkata

“Robin… kau tidak harus cerdas untuk menjadi dokter, Kau hanya harus tekun”

Kata-kata dokter itu terus terekam, terpikir membayangi setiap langkahnya. Singkat cerita walaupun bukan di jurusan kedokteran ia pun berhasil kuliah. Setiap kali Ia ragu, Ia memotivasi dirinya sendiri “Aku memang tidak cukup cerdas untuk kuliah, tetapi aku bisa menjalaninya dengan tekun” tugas demi tugas ia selesaikan satu persatu dengan rajin dan penuh semangat. setiap kali berhasil menyelesaikan suatu tugas maka semakin bertambah pula rasa percaya dirinya. Ia menemukan bahwa dengan ketekunan, maka ia dapat meraih hal-hal yang tidak pernah ia anggap mungkin. Robin berhasil menjadi orang pertama di keluarganya yang lulus Strata 1 bahkan melanjutkan ke S2 meraih gelar master disaat ia sudah menjadi ibu dengan segala kesibukannya

Ya.. betapa sebuah perkataan atau pesan yang baik itu tanpa pernah kita tahu dapat mengubah jalan hidup seseorang..

HASIL tak akan pernah mengkhianati USAHA..
Bulatkanlah tekad.. sudah itu tawwakal.. Biarkan Allah pilihkan jalan yang terbaik untukmu

Catatan @astumd
23 Februari 2018 18.10

Advertisements

Songokou dan semangat Bushido

Suka komik Jepang (Manga)? Menurut temen-temen apa persamaan dari Son-Goku, Monkey D. Luffy (One Piece), Ichigo Kurosaki (Bleach), Uzumaki Naruto (Naruto Shippuden) dan Chinmi (Kung Fu Boy)? Kalau menurut hemat saya, semua tokoh ini digambarkan sebagai tokoh yang periang namun pekerja keras, tidak mudah menyerah, suka sekali tantangan, visioner dan semangat yang tinggi untuk terus berlatih dan belajar.

Son-Goku contohnya. Tokoh ciptaaan sensei Akira Toriyama ini bener-bener legend. Bayi Goku Dikirim ke bumi lewat kapsul penyelamat, planet Goku dihancurkan oleh Frieza. Anak yatim piatu ini kemudian dibesarkan oleh kakek Gohan dan dilatih oleh si pertapa kura-kra guru Muten Roshi.

Waktu dan pengalaman membentuk Goku menjadi seorang “pejuang” yang pada saat bertarung itu pantang menyerah. sampai titik darah penghabisan. Ingat yang waktu dia melawan Frieza di planet Namec. Babak belur banget sampai di titik kritis di berhasil melampaui kapasitasnya. Bertansformasi jadi Super Saiya dan menang. Semangat demi menyelamatkan bumi, demi menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

Jepang itu kental dengan samurai. Prinsip-prinsip ksatria yang dianut oleh Samurai itu disebut “Bushido”. Ini tergambar banyak lhoh di serial-serial manga. Sifat-sifat ini meresap di hati anak-anak Jepang, dikisahkan melalui dongeng, cerita, novel, karya sastra, puisi, film, diceritakan kembali di sekolah-sekolah sehingga membuat bangsa Jepang menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

Menurut Nitobe Inazo Ada 8 prinsip dalam Bushido yaitu :
1. Kebenaran (Gi)
2. Keberanian heroik (Yu)
3. Kasih sayang (Jin)
4. Saling menghormati (Rei)
5. Integritas/Kejujuran (Makoto)
6. Kehormatan (Meiyo)
7. Tugas dan Loyalitas (Chugi)
8. Pengendalian diri (Jisei)

Keren! Dan salah satu yang saya pelajari dari Son-Goku dan tokoh-tokoh protagonis lain di manga-manga Jepang….
Kalau mau jadi “Hero” milikilah kemauan yang kuat.
Jangan takut jatuh, jangan takut gagal karena….

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh” –Confucius

Catatan @astumd
Minggu, 4 Maret 2018 (10:31)

Menuju garis finish

The Finish Line

“Mereka sadar bahwa mustahil jadi juara, tekad mereka hanya menaklukkan garis finish, untuk menaklukkan mereka sendiri sesungguhnya. Seperti pendidikan Moral Pancasila di sekolah,lomba lari juga pembentuk karakter” –“Ayah” (2015), Andrea Hirata

Sekolah itu seperti maraton.. setiap pelari punya kapasitas yang berbeda. ada yang cepat, ada yang lambat, ada yang berhenti di tengah jalan, ada yang di tengah keterbatasan tetap berjuang untuk sampai ke garis finish, mengalahkan diri sendiri.

Deket-deket garis finish memang berat. soalnya tenaga sudah habis.. lelah hayati bang!.. seperti pertandingan final, lawan kita makin tangguh, atau seperti kehamilan, mau melahirkan adalah saat paling menyakitkan. ada yang bilang proses persalinan itu sakitnya 10x nyeri saat fraktur tulang panjang. Tapi setelah kesusahan pasti ada kemudahan, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Setelah itu setelah lulus kita naik tingkat, tambah ilmu, tambah manfaat, golden moment saat wisuda membuat orangtua kita menangis haru dan bangga, Orang tua yang enggak pernah lepas dari mendoakan kita, siang dan malam.

Sekolah itu proses pembangunan karakter. terutama saat buat skripsi, thesis, disertasi. secara enggak sadar kita belajar tentang kesabaran, konsistensi, kemandirian, sikap proaktif, kemampuan merangkai dan memilih kalimat, kejujuran, berargumen dengan dasar ilmiah, public speaking, semangat keingintahuan, kolaborasi, ketekunan, bertahan dari distraksi, rela berkorban, kepercayaan diri, kerendahan hati, problem solving, sintesis, sopan santun, etika saat belajar dari banyak guru

Guru itu seperti gelas atau tempat minum yang beraneka bentuk. beda bentuk, beda karakter tapi tujuannya satu, menuangkan amerta (air kehidupan), menghilangkan dahaga, memberikan ilmu yang bermanfaat untuk bekal perjalanan kita selanjutnya nanti. Nabi Muhammad SAW menggambarkan kemuliaan guru dalam salah satu hadits Riwayat At Tirmidzi “Sesungguhnya Allah, para Malaikat-Nya, penghuni langit, penghuni bumi, hingga semut di liangnya dan hingga ikan paus di lautnya pasti mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. Guru yang baik itu mendidik dan menginspirasi. tidak harus dalam pendidikan formal, tapi juga guru kehidupan. Kalo kata Pak Jamil motivator sukses mulia kita itu harus rendah hati, mau belajar dari siapa saja. karena air patuh terhadap hukum gravitasi, mengalir ke tempat yang rendah. begitu juga ilmu

Akhirul kalam, izinkan saya mengutip kata-katanya kakek Confusius (551-479 SM) “Pendidikan akan melahirkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri menimbulkan harapan. Harapan melahirkan kedamaian” Jadi semakin terdidik seharusnya kita makin membawa kedamaian ya, bukan permusuhan dan perpecahan. Itu!

Catatan @astumd
Surabaya, 24 Maret 2018 (10.04)

Letnan Dua Hiroo Onoda

Ketika sekelompok orang dihadapkan pada kesulitan atau situasi yang sama, satu visi, satu misi. Tidak jarang jiwa korsa (L’esprit de corps)  terbentuk dengan sendirinya. Apa itu korsa? banyak definisi. intinya seperti yang digambarkan Ibnu Khaldun adalah kumpulan dari rasa senasib sepenanggungan, solidaritas, loyalitas, dedikasi, mementingkan kepentingan bersama, rasa kesetiakawanan, satu rasa, satu asa, satu “penderitaan”

Omong-omong tentang penderitaan, Ada satu kisah nyata nih dari bukunya Mark Manson “The subtle Art of Giving a Fu*k” Tahun 1944 Jepang menginvasi Filipina. Sekelompok pasukan Jepang termasuk Letnan dua Hiroo Onoda mendapat perintah dari kaisar (1) Perlambat pasukan sekutu (2) Tetap tegak dan lawan musuh (3) Jangan menyerah. Ia pun patuh berjuang dengan gerilya, membakar stok makanan musuh, menembaki pasukan Sekutu yang masuk ke hutan. begitu terus

Sampai 1945. Jepang menyerah dengan sekutu. Selebaran dari pesawat dijatuhkan, namun saat membaca selebran ini.  Onoda tetap tidak percaya dianggapnya ini muslihat musuh. Ia tetap “berjuang” sampai semua temannya mati, sendirian sembunyi di “Lubang Forrest” Filipina, membakar stok makanan, ternak, dan terkadang menembak petani yang terlalu jauh masuk ke hutan karena dianggap nya mata-mata musuh. Tahun 1952 pemerintah Jepang menyebarkan lagi selebaran termasuk foto-foto keluarga Onoda supaya kembali ke Jepang. Lagi-lagi dia enggak percaya.

Hal ini terus berjalan selama 30 tahun sampai suatu ketika ada pemuda nekat, petualang agak hippie namanya Norio Suzuki. Misi hidupnya cuma 3. menemukan Onada, panda bear dan Yeti. strateginya.. ia akan masuk ke hutan , meneriakkan namanya dan bilang kalo kaisar mengkhawatirkan nya. Dan Ajaib. Ia menemukannya hanya dalam 4 hari. Padahal pemerintah Jepang dan Filipina nyari dia sudah bukan main.

Onoda pun akhirnya kembali ke Jepang. menjadi legenda hidup. Diundang dan diwawancara dimana-mana. dibuatkan buku. menjadi banyak inspirasi tentang semangat “Tidak menyerah”. Tapi seperti baru turun dari kapsul waktu ia sangat sedih dengan wajah Jepang masa kini yang hidup dengan budaya konsumerisme, kapitalis yang banyak dipengaruhi budaya barat. Hilang sudah nilai-nilai kehormatan dan pengorbanan yang begitu kental diajarkan saat perang. Ia menjadi depresi jauh lebih sedih daripada pada saat ia sembunyi di hutan Filipina. Lalu pada tahun 1980 Ia memilih untuk pindah ke Brazil sampai akhir hayatnya. Sementara Norio Suzuki si explorer itu mati di Himalaya saat ia berburu Yeti, manusia salju. Tak berselang lama setelah ia menemukan panda

Moral of the story. Bagi kedua orang Jepang ini Hiroo Onoda dan Norio Suzuki, penderitaan berarti sesuatu. Untuk tujuan yang lebih besar. Karena berarti sesuatu, mereka berhasil bertahan dan mungkin menikmatinya. Saat penderitaan tidak dapat dihindari. Maka pertanyaannya bukan “Bagaimana kita menghilangkan penderitaan ini” tapi “Untuk tujuan apa aku saat ini menderita”

Catatan @astumd
18 April 2018 (11.30)

NB : Terimakasih buat ami yang cerita-cerita di meja makan kisah ini beberapa hari sebelum ujian. Dengan penuh semangat, dengan mata yang berbiar-binar. ngasi semangat suamiknya. Guys ini enaknya punya istri lulusan psikologi. Serasa punya psychotherapist pribadi hehe.. #BehindTheScene

Pemeriksaan sederhana sendi bahu (Soft Tissue Rheumatism)

Nyeri di persendian kadang begitu nyeri sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan quality of life. Penyebabnya bisa macam-macam seperti sport injury, salah posisi saat mengangkat beban berat, dsb. berikut saya ingin sharing beberapa video pemeriksaan rematologi sederhana yang bisa diterapkan untuk membantu diagnosis penyakit di sekitar sendi bahu. Continue reading “Pemeriksaan sederhana sendi bahu (Soft Tissue Rheumatism)”

The suicidal phenomenon – How to prevent?

Tadi pagi saya membaca berita yang kurang sedap di salah satu situs berita online. Bunuh diri online. Live dan membuat kehebohan di dunia maya. And people begin to judge nyalahin si ini dan si itu, benernya gini dan gitu..

Tapi Guys mari kita sejenak mengambil pelajaran. Kalau melihat data dari WHO, sungguh miris. Di Indonesia, angka bunuh diri 3,7 per 100.000 penduduk. Berarti kalo jumlah penduduk kita 285 juta berarti kira-kira setiap jam ada 1 orang yang bunuh diri, dalam 1 tahun ada 10.000 orang!

Kalau dalam skala global nih, total ada 800.000 orang yang meninggal per tahun karena bunuh diri 75% diantaranya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bunuh diri merupakan penyebab kematian ke-5 di dunia dan modusnya paling banyak adalah minum pestisida, gantung diri dan menggunakan senjata api Continue reading “The suicidal phenomenon – How to prevent?”