Quotes from “Pulang” Tere Liye (2015)

  • Guru Bushi selalu bilang. “Ingat Bujang, jika kau tidak membunuh mereka lebih dulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. jangan ragu walau sehelai benang
  • Pemegang pistol yang pintar di fokus pada misinya
  • Penembak yang baik selalu tahu persis kekuatan pistolnya Bujang!
  • Bagi penembak, pistol ibarat kekasih hati, dia memahaminya dengan baik
  • Konsentrasi, fokus, kecepatan
  • Kesetiaan anak ini ada pada prinsip, bukan pada orang atau kelompok
  • Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup. Bukan pada yang lain
  • Samurai tidak hanya tentang perkelahian Bujang! Bukan sekedar talenta membela diri atau teknik menyerang. Samurai adalah cara hidup. Prinsip-prinsip kematian. Pedang bukan sekedar alat untuk membunuh, tapi simbol rasa sabar dan pengendalian diri
  • Samurai adalah perjalanan hidup bujang. Tidak pernah soal berapa lama kau berlatih, kau sudah menggenapkan seluruh teknikyang kaumiliki dan seluruh jurus yang aku punya. Sisanya, akan kau sempurnakan sendiri bersama perjalanan hidupmu
  • Perjalanan tidak mudah Bujang! Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu tapi diri sendiri menklukkan monster yang ada di dirimu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme, ketidakpedulian, ambisi, Rasa takut, Pertanyaan, Keraguan. Setelah kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja
  • Peluklah semuanya, Agam. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu, hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?
  • Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapapun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran
  • Sekarang dengan pengalaman baru, dia memahami bahwa tidak mengapa rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir. Dia takut-dia mengakuinya-tapi dia tidak akan lari dari kenyataan itu, melainkan akan menitipkan sisanya kepada takdir Tuhan. Dia menambatkan rasa takut itu kepada Sang Maha Memiliki
  • Tuanku Imam benar. Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab baru bersama matahari terbit
  • Mamak, bujang pulang hari ini. Tidak hanya pulang bersimpuh di pusaramu, tapi juga pulang kepada panggilan Tuhan. Sungguh sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuha selalu memanggil kami untuk pulang. Anakmu telah pulang

 

Summarized by @astumd (October 15th 2017 09.45)

Thanks to Aura Najma for lending this nice book 🙂

Advertisements