Tadi pagi saya membaca berita yang kurang sedap di salah satu situs berita online. Bunuh diri online. Live dan membuat kehebohan di dunia maya. And people begin to judge nyalahin si ini dan si itu, benernya gini dan gitu..

Tapi Guys mari kita sejenak mengambil pelajaran. Kalau melihat data dari WHO, sungguh miris. Di Indonesia, angka bunuh diri 3,7 per 100.000 penduduk. Berarti kalo jumlah penduduk kita 285 juta berarti kira-kira setiap jam ada 1 orang yang bunuh diri, dalam 1 tahun ada 10.000 orang!

Kalau dalam skala global nih, total ada 800.000 orang yang meninggal per tahun karena bunuh diri 75% diantaranya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bunuh diri merupakan penyebab kematian ke-5 di dunia dan modusnya paling banyak adalah minum pestisida, gantung diri dan menggunakan senjata api

Ini fenomena gunung es. banyak yang mungkin gak ketahuan atau tidak terdata karena langsung dikubur. Media itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi membuka mata sehingga kita mempunyai wawasan dan peduli, namun di satu sisi bisa “menginspirasi” dalam arti negatif. banyak yang nanti meniru modusnya. jadi rasanya gak usah dibesar-besarkan lah demi mengejar oplah atau rating.. Please .. bad news is not always a good news

Kawan.. Niy kalau di teori-teori psikologi. Setiap manusia itu punya stressor. menyikapinya ada 2 macam : adaptif dan maladaptif. Kalau kita bisa beradaptasi terhadap stressor itu maka akan timbul harapan, rasa yakin, ketetapan hati sehingga menimbulkan inspirasi. orang seperti ini punya Adversity Quotient (AQ) atau kecerdasan/ketahanan menghadapi tekanan yang tinggi. Kecerdasan ini ada banyak pada orang-orang yang besar dan sukses. Orang-orang yang tahan banting.

Tapi ada kalanya respon yang timbul maladaptif. ada banyak faktor guys… kita enggak bisa menyalahkan individunya karena selain faktor genetik juga dipengaruhi faktor lingkungan, pendidikan, keluarga, support system, transfer nilai atau memang ada penyakit ketidakseimbangan molekul-molekul yang di otak seperti serotonin, dopamin, endorfin sehingga orang jadi mudah depresi..

Yang paling tahu adalah diri kita sendiri. Pada kasus diatas temen-temennya banyak yang enggak ngira lho kalo dia bakal bunuh diri karena sehari-hari selalu riang. Jadi harus punya kesadaran.. minta pertolongan.. kalau gak bisa diatasi sendiri.. jangan dipendam sendiri.. segera cerita (tapi jangan si sosmed).. tulis buku harian atau cerita ke teman hidupmu, sahabat yang bener-bener kamu percaya, guru spiritual atau lebihprofesional ke psikiater karena sudah dilatih untuk mendiagnosis dan menterapi masalah kejiwaan yang ada di kamu. gak mesti dengan obat kok, paling sering dengan psikoterapi artinya dokter akan mendengarmu bercerita dan berusaha agar kamu lebih tenang dan membuatmu menemukan sendiri solusi dari masalahmu..

Jaman sekarang memang butuh keberanian untuk hidup.. Ya berani hidup itu “sesuatu” yang luar biasa.. setiap orang punya masalah dan masa lalu.. Itu pilihan kita mau menyerah atau terus melaju.. enggak mudah memang.. penuh derai air mata.. tapi sekali lagi, gusti Allah itu mboten sare.. Dia Maha Melihat dan Mendengar.. Dia Maha Penyayang. meski kita sering berburuk sangka dan menyalahkan-Nya apabila kita diberi takdir yang kurang menyenangkan.. Allah memberikan ujian pasti.. pasti sesuai dengan kemampuan kita.. kita aja yang suka enggak pede.. kita aja yang suka mengeluh dan mudah menyerah.. So Guys.. Be Brave
“Selama engkau masih bernafas.. berjuanglah!” — Mr. Hugh Glass (The Revenant, 2015)
catatan @astumd
18 Maret 2017 (14:25 BBWI)

Advertisements