dad

Pada saat perjalanan pulang naik bis dari tanah suci menuju Jeddah, tiba-tiba papa mugi “sesenggukan” bercucur air mata. Mama yang duduk disamping heran “lho kenapa pa? Kok nangis” sambil terbata-bata “Iyo.. aku eling astu karo maya”

Yeah that’s my dad. Ibarat punya kue gitu pengennya dibagi-bagi makan bareng keluarga. Enggak pengen dinikmati sendiri. Termasuk umroh kemarin pengennya bareng-bareng semua bareng anak cucu. Hmm. Someday ya pa… Bismillah

Sebenarnya ada beberapa hal niy kalau boleh cerita tentang papa yang hingga saat ini saya kagumi dan teladani

1. Jujur dan pantang menyerah
Pas kuliah dulu papa pernah enggak naik kelas. Bukan karena bodoh tapi papa pas ujian keukeuh enggak mau nyontek sementara temen papa yang lain saling “simbiosis mutualisme”. Dulu masih pakai sistem gugur jadi papa harus ngulang 4 semester! Kebayang gak siy. Papa sempat hampir putus asa, nangis dan mau dibakar tuh buku-buku kuliah.

Tapi eyang putri pas waktu itu datang, memegang dengan lembut bahu papa “Nak, kadang untuk sukses itu penuh jalan terjal, siapa bilang jalannya akan mudah. Tapi ibu percaya kamu pasti bisa, kamu sudah ditengah jalan nak. Sayang jika harus berhenti sekarang”

Maka sejak itu papa belajar untuk terus berjuang, pantang menyerah. Termasuk pada saat awal kena stroke dulu. Papa kesulitan banget berjalan dan berbicara. Lidah jadi pelo, berjalan seperti hilang keseimbangan. Tapi alhamdulillah karena semangat, doa dan dukungan keluarga dan teman sejawat papa bertahap walau dengan keterbatasan sampai pensiun tetap bisa mengajar dan praktek.

2. Penuh dedikasi dan pekerja keras

 

Papa itu kalo udah diberi tugas maka akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh tanpa mengeluh, tanpa banyak alasan. Dikerjakan dengan tekun, sesempurna mungkin. All out!

Enggak banyak bicara tapi kerja, kerja dan kerja. Pernah diceritain perawat mata, pas bakti sosial operasi katarak di daerah. Papa sudah selesai 10 pasien yang lain baru 3-4 soalnya sambil ngobrol sementara papa fokus.

3. The great teacher

Kalo lebaran biasanya murid-murid papa baik yang udah lulus atau masih ppds itu suja dateng ke rumah. Silturahmi. Sambil cerita kalo istilah anak-anak dokter muda itu dosen “golden” artinya sabar, gak pernah marah, pemurah kalo kasi nilai dan jarang mempersulit malah suka bantuin nyariin referensi buat muridnya, walau waktu itu agak kesulitan mencari-cari karena stroke tapi tetep semangat membibing muridnya.

4. Book lover, enthusiastic writer
Papa walau banyak diemnya tapi secara gak langsung sudah menularkan virus membaca sejak aku kecil. Di rumah ada rak penuh buku-buku yang beragam. Selain buku kedokteran juga ada buku-buku agama, buku-buku pengetahuan dasar untuk anak. Aku inget dulu satu set isinya tentang “mengapa begini?” “mengapa begitu?” buku terjemahan dari jepang menarik bergambar dan informatif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan anak-anak.

Papa juga suka baca tuh novel2 detektif terutama sherlock holmes (yang akhirnya nular ke anaknya). Atau novel silat kho ping hoo yang berjilid-jilid. Jadi guys kalo pengen anaknya suka baca gampang aja. Kasih contoh. Lalu bikin anakmu dikelilingi buku dari depan belakang, kiri kanan, atas bawah hehe..

Soal tulis-menulis aku masih inget dulu kan papa sebelu

m ada MS word masih pakai mesin ketik yang kalo salah harus di-stippo atau ganti kertas, gak bisa di insert. Like hell lah. Tapi di penutup mesin ketik itu ada stiker bertuliskan. “Tulis sejuta kata” tetep semangat ngetik makalah, puisi, cerita bebas, artikel. Lebih ah kalo sejuta. Karena papa tetep setia pakai mesin ini meski MS word sudah lahir lama.

5. Family man
Papa itu family man. Juga romantis. Mama dulu pernah dipanggil orchid yang artinya anggrek. Papa juga tuh juga kadang sampai sekarang kalo mama sakit. Habis dikasi obat lalu keluar kamar soalnya enggak sanggup, enggak tega lihat mama sakit. Waktu aku kecil juga, jangan ditanya pas kena typhus kemana-mana digendong termasuk ke kamar mandi, pas panas papa sendiri juga yang ngolesin alkohol di kaki sama tangan biar suhunya turun.

Terkadang inspirasi itu enggak jauh-jauh. It could be your own dad, your own mother or your own family.

Hmm kalo gini jadi inget pesan papa “Nak kamu jad

i dokter itu bekalnya 3. Sabar, ikhlas, tawakal. Sabar menghadapi keluhan pasien, sabar menerangkan penyakitnya karena pasien dan keluarganya juga membutuhkan informasi yang jelas dan kata-kata yang menyenangkan, yang menentramkan. Ikhlas, karena itu akan jadi energi kebaikanmu yang positif. Dan yang namanya kebaikan itu pasti.. pasti akan kembali ke kamu juga dengan berlipat-lipat. Tawakal karena kesembuhan itu wewenang Allah. Tugasmu hanya memberikan pengobatan dengan sebaik-baiknya ilmu, sebaik-baiknya perhatian dan sebaik-baiknya usaha”

Catatan @astumd
For my dad, my hero
3 januari 2016 (12.45)

Advertisements