dscn2704

Maharani  – Pearl S. Buck

  • Bahaya terbesar di antara semua bahaya adalah meremehkan musuh
  • Yang sedang dibacanya adalah buku-buku mengenai ketabiban, masalah yang sama sekali tidak dikuasainya, teteapi ia bertekad mempelajari semuanya dan apa saja yangpaling tidak diketahuinya dan yang ingin diketahuinya. Ini bukan saja karena kehausannya akan pengetahuan dan rasa ingin tahunya mengenai alam semesta, tetapi juga karena ia selalu ingin lebih tahu daripada siapa saja yang diajaknya berbicara
  • Anak itu menjadi sebab dari semua yang dilakukannya, menjadi alasan dari segala sesuatu yang telah dikerjakannya, menjadi alas an dari segala sesuatu yang telah dikerjakannya
  • Ibu Suri tidak mengizinkan guru-guru memanjakannya dengan pujian. Ia menegur mereka kalau didengarkannya mereka memujinya. “Jangan kalian membandingkannya dengan anak-anak lain” katanya. “Kalian hanya boleh membandingkan pekerjaannya dengan apa yang seharusnya mampu ia kerjakan
  • Ia pun tak pernah berhenti membaca

Taj Mahal – Kisah cinta abadi

  • Kecantikan memperindah dirimu, Jahanara” ucapnya “ Namun yang penting adalah pikiranmu (36)
  • Lebih baik aku kehilangan kerajaan daripada kehilangan dirimu, Janara. Mungkinkah langit semarak tanpa bintang?” (54)
  • “Keberhasilan, demikian ibu menjelaskan, sangat bergantung pada teman-temanmu dan dirimu sendiri” (58)
  • “Jahanara, emas tidaklah ada harganya bila disandingkan dengan cinta, Di atas segala hal yang dikejar, disanalah seharusnya cinta bertakhta” (168)
  • “Jangan pernah mengabaikan cinta, Anakku. Menolak hadirnya sama artinya dengan menelantarkan hadiah Tuhan yang terbesar. Lagipula, siapakah kita yang mengabaikan Tuhan?” (168)
  • “Jangan bertindak tergesa-gesa, Jahanara. Aku takut ketidaksabaranmu akan menjadi kelemahanmu yang paling mendasar. Harimau yang menerkam terlalu awal seringkali cepat lapar” (207)
  • “Jika Allah mengendaki saya tak berguna, Dia tidak akan memberi saya otak” (372)
  • “Kecantikanmu? Kecantikan adalah perasaan, dan perasaan bertahan selamanya” (381)

The Road to the Empire – Kisah Takudar Khan. Pangeran muslim pewaris mongol (Sinta Yudisia)

  • Tanpa persaudaraan duniamu hanya seluas telapak tangan
  • Pusatkan pada piiran cinta kasih / buang pikiran marah dan dendam / dengan penuh belas kasih, menolong makhluk hidup / dengan kemurahan hati memaafkan sesama (38)
  • Sastra melembutkan perasaanmu dan membuatmu berpikir. Jika naluri dan akalmu setajam pisau, kau hanya memerlukan sedikit bantuan untuk mencapai apa yang kau inginkan (63)
  • Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Kakakmu mungkin dapat melindungi diri dari serangan luar, memiliki ilmu beladiri yang tinggi, menyewa pasukan bayaran, tapi belum tentu mampu melindungi jiwa dari serangan bisikan gelapnya sendiri (112)
  • Suatu saat, saat masalah besar melanda dan hidup seakan tak punya pilihan, kejujuranmu pada nurani dapat menyelamatkan sisa hidupmu (117)
  • Kau lihat? Gurun dan langit, dua tempat yang mencerminkan kematian ternyata member tempat bagi suatu kehidupan teramat indah. Dahsyatnya kesulitan yang kau lalui, menghimpitmu dari segenap penjuru, ternyata menumbuhkan hal-hal terbaik dalam hidupmu (244)
  • Hati-hati terhadap perempuan cantik, Semakin cantik semakin berbisa (269)
  • Kehormatan seorang laki-laki bukan diukur darah macam apa yang mengalir di tubuhnya, semua ditandai dengan kemahiran dan loyalitas (272)
  • Besi dan senjata hanyalah alat, selebihnya kekuatan manusia. Jika pangeran mampu menyatukan jiwa-jiwa manusia dalam satu kendali, kemenangan tak lama lagi (282)
  • Satu-satunya yang harus kamu percayai adalah dirimu. Jika tak mempercayai kata hatimu, bagaimana dapat melangkah terus ke depan

Summarized by @astumd

17 Desember 2016 (17.59)

Advertisements