Surabaya – The story behind
Episode 1 : Balai Pemuda

Kalau New York punya central square. Surabaya juga punya. daerah ini dulu bernama simpang. Pada zaman Belanda kawasan simpang merupakan pusat aktivitas dari pemerintah Hindia Belanda. Kini bekas-bekas kejayaan itu sebagian menjadi cagar budaya. sebut saja gedung Balai Pemuda, Grahadi, Hotel majapahit, Apotek Simpang, RS Simpang (Kini menjadi Delta Plaza, Gereja Maranatha dsb. Belanda mulai berkuasa di Surabaya sejak abad ke 18. Yaitu ketika kerajaan mataram kuno memberikan hadiah kepada VOC untuk mendirikan benteng karena telah membantu mengatasi pemberontakan. Salah satunya di Surabaya. Seiring waktu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar setelah Batavia. Pada tahun 1903 Surabaya menjadi Gementee (Kotamadya), kota mandiri sebagai kebijakan desentralisasi pada saat itu. Surabaya dahulu pernah dijuluki The little Amsterdam”

Sekarang kita sudah sampai di Balai Pemuda Surabaya. dahulu tempat ini menjadi tempat hiburan malam untuk meneer (Tuan) dan mevrou (Nyonya). Hanya untuk orang kulit putih! disana ada tulisan “Verboden voor hooden en inlander” Terlarang bagi anjing dan pribumi. Bayangkan kita disamakan dengan anjing. Balai Pemuda dahulu dinamakan “De Simpangche Societteit” Kelompok orang kulit putih yang kebanyakan rasial diskriminatif. Di sini ada hall yang besar untuk dansa, ada gedung yang di ruangannya ada balkon tempat band bermain. mirip diskotek. Tempat bermain bowling dan acara minum teh. Di daerah yang dahulu dipakai bioskop mitra pada era kolonial merupakan tempat penyimpanan wine yang besar”

Gaya bangunan di Balai Pemuda menganut gaya arsitektur ekletisisme yaitu gaya campuran neo gothic, renaissance dan klasika romania. Bangunan ini dibangun pada 1907 oleh Waken Weshmaes. tempat parkirnya dahulu dilapisi oleh marmer. Ciri khas bangunan ini adalah bentuk atapnya yang seperti kubah. mirip dengan bentuk mahkota ratu Belanda

Pada November 1945 tempat ini dijadikan markas oleh Pemuda Republik Indonesia (PRI), arek-arek suroboyo yang sedang berjuang melawan sekutu. Pada tahun 1957 Tempat ini baru berubah nama menjadi gedung Balai Pemuda

Kini Balai Pemuda masih menjadi ruang publik. bangunannya masih sangat terawat. ada perpustakaan, pusat informasi pariwisata surabaya, rumah bahasa (tempat belajar bahasa Asing Gratis  untuk umum), tempat pameran, pengembangan seni dan seminar

Catatan @astumd

Surabaya, 31 Juli 2016