Di usia SD Gol A Gong atau yang lebih akrab dipanggil mas Gong harus kehilangan sebelah tangan, hingga siku, karena kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan yang mengubah hidup karena ayah mas Gong,

seorang guru, memb20141104_172041isikkan sebuah kata ajaib “Banyaklah membaca maka engkau akan lupa bahwa engkau mempunyai kekurangan” Sejak saat itu mas Gong kecil mejadi “gila” baca. huruf demi huruf seakan hidup, menari, memberi nutrisi otak, menyambung sinaps-sinaps neuron yang kelamaan akan meledak menjadi karya.

Ia kerap membuat sandiwara radio, artikel yang ia cetak sendiri dengan stensil ayah. koleksi bukunya pun makin bertambah hingga 3000 koleksi pada saat SMA.
Mas Gong lalu melanjutkan pendidikan di fakultas sastra namun pada saat semester 5 ia memutuskan untuk berhenti karena ia tidak suka melihat cara dosen mengajar, silabus dan sistem pendidikan. Pernah pada saat ujian ia duduk dibelakang sendiri lalu melihat di teman-teman yang didepan contek-contekan. marah ia pun langsung begitu saja meninggalkan kelas. Pernah pula ia ditanya oleh seorang dosen “Mengapa kamu sering tidak masuk kuliah?” “Karena pada saat saya masuk bapak tidak ada,pada saat bapak masuk saya tidak ada. seharusnya saya yang bertanya kepada bapak karena saya membayar uang sekolah”

“Banyaklah membaca maka engkau akan lupa bahwa engkau mempunyai kekurangan”

Keinginannya meninggalkan bangku kuliah ini ia utarakan kepada kedua orangtuanya. Ia ingin berkelana, menjadi backpacker, belajar langsung dari kehidupan, belajar langsung dari alam karena kata orang padang alam adalah guru yang baik. Alhasil pada tahun 1988 setelah riset selama 5 tahun, mas Gong berhasil menelurkan sebuah novel Balada si Roy. Editor pertama adalah ibunya sendiri. Dalam bahasa sunda ia berkata “Nak engkau harus membawa pembacamu melalui jalan setapak menuju mata air” artinya tulisan harus membawa pengaruh positif untuk pembaca.

Balada si roy akhirnya dimuat secara berseri di majalah “Hai” dan dalam waktu dekat inshaAllah akan tampil di layar lebar

Tentang keluarga
Mas Gong menikahi seorang wanita yang juga penulis. konon ia mengaudisi calon pasangan hidupnya dengan menantangnya membuat puisi. Menurut mas Gong, rumah harus banyak buku, ciptakan lingkungan literasi. maka tanpa perlu disuruh, anak-anak akan meniru yang dilakukan oleh orangtuanya. Pada umur 7 tahun anak mas gong juga sudah membuat buku lho. Mungkin dalam keseharian lanjut mas Gong ia seringmelihat ayahnya membaca, mengetik lalu disekitarnya banyak sekali buku. Lead by examples. Memberi tauladan seperti zaman Nabi

Rumah Dunia
Mas Gong mempunyai misi menghidupkan literasi. dimulai di sekitar rumahnya di Banten, Ia mendirikan rumah dunia, mengundang siapa saja pemulung, pegamen, pengusaha, pedagang gorengan untuk mencintai dunia sastra. Seperti kita tahu di Indonesia budaya literasi sangat kurang, padahal literasi adalah simbol peradaban.
Tak jarang mas gong harus “mengiming-imingi” dengan kue, dengan uang agar mereka mau membaca buku, membaca orasi atau puisi. Puisi adalah satu metode, menghidupkan seluruh indera, salah satu jalan kita untuk mencintai sastra. Kita mungkin Ingat Umar Bin Khattab berkata “Ajarkanlah anakmu seni/karya sastra, agar hatinya lembut. Ketika hati sudah lembut maka ia akan mudah menerima kebenaran. Perjuangan mas Gong tidak sia-sia, banyak sudah anak didiknya yang sudah membuat buku, duta unicef, dikirim ke Leiden,wartawan, editor koran ternama, berhasil terangkat derajatnya, berkat menulis.
Pada saat ini mas Gong tengah melakukan Tur literasi jawa dari Anyer sampai Panarukan. Jalan pos Daendels. Napak tilas leluhur kita yang banyak kehilangan nyawa dalam membangun jalan. Selama perjalanan ia banyak mengadakan diskusi, mengadakan workshop, berbagi tentang literasi di berbagai komunitas.Silih berganti relawan rumah dunia terus menyalakan “lilin” menerangi dunia, tanpa bantuan mereka, kata mas Gong. rumah dunia tidak akan berjalan dengan baik

Terakhir ia memberi tips jika engkau ingin menjadi penulis maka banyak-banyaklah membaca, harus punya solidaritas beli bukunya, hadir saat book signing, mintalah tanda tangan dan bersalamlah dengannya. agar terikat batin antara pembaca dan penulis. jangan lupa bahwa suatu saat engkau akan duduk dan memberi tanda tangan bukumu.

@astu_MD