Invitation

Setelah sholat Idul Adha mampir sejenak lihat prosesi Qurban. Eh ada mbah Djo ngajak ke rumah sambil makan begedel hangat hmmm… lalu mbah Djo suami istri mulai bercerita

Mbak Riris, kelainan jantung bawaan, dan hidup mati paska persalinan

Mbah Djo mempunyai seorang anak bernama mbak Riris. Dari kecil ia mempunyai kelainan jantung bawaan. Tidak jelas apakah PDA, RHD, VSD, ASD or something. Jadi sejak mbak Riris berumur 3 tahun, Mbah Djo harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengobatkan mbak Riris di sal A RS dr Soetomo Surabaya. Rumah sakit serasa menjadi rumah kedua. Disitulah Bu Djo menyaksikan banyak kematian yang menjadikannya tatag (tabah) saat merawat jenazah. Tugas sosial yang hingga kini masih dijalaninya.

Mbak Riris akhirnya memutuskan untuk menikah. Sebelum menikah, Calon pasangan ini disidang dulu oleh dokter-dokter di rumah sakit. Artinya diberi informasi sejelas-jelasnya tentang risiko kematian saat hamil dan melahirkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap menikah

Sampai kehamilan bulan ke 5. Mbak Riris sudah mulai tidak kuat menahan beban dan pada bulan ke 7 dioperasi di GBPT. Menurut ilmu medis tidak mungkin kedua ibu dan bayinya bisa bertahan hidup tapi Bu Djo saat itu yakin hanya memohon pada Alloh SWT. “Nak kamu dulu lahir dari ibu, Mudah2an Alloh menjaga kamu dan bayimu” sambil melangkahi 3x tanpa “maaf” memakai celana dalam.

Dokter jantung pada saat itu semoat menyuruh untuk menggugurkan, tapi Prof Lila Dewata SpOG tetap bersikeras untuk dipertahankan dengan diberi penguat. To Preserve life

Saat persalinan, mbak riris mengalami pendarahan hebat. Kata dokter bila darahnya tidak turun ke bawah tapi naik ke atas nyawa mbak Riris tentu tidak akan tertolong.

Tapi Alloh berkehendak lain, Setelah di ICU selama 3 hari. Ibu dan anak selamat semua. Kasus ini mendapat perhatian penuh dari seluruh tim dokter dari berbagai disiplin ilmu. Karena disaat yang sama ada pasien dari Kediri tidak tertolong. Banyak kalangan dokter yang tidak percaya dan mengundang Mbah Djo , mbak riris ke RS untuk berbagai pengalaman.

Bahkan Prof Erry Gumelar SpOG sebelum melakukan operasi berpuasa terlebih dahulu selama 1 minggu. Begitu perhatian, bila mbak Riris tidak kontrol , maka Prof Erry sendiri yang menelfon.

Kapan itu kan mbak Riris ke GBPT terus nyalamain Prof Erry yang pada saat itu baru saja memimpin rapat staf.  “Ini mbak Riris ya?” “Iya dok” lalu Prof Erry mengumumkan ke stafnya bahwa ini pasien yang dulu berhasil ia tangani. Mbak Riris lalu disalami oleh segenap dokter yang hadir disitu. Sampai2 satpam disitu heran lalu tanya ke Mbah Djo. “Pak Anda itu siapa” “Wah saya orang biasa saja” sambil tersenyum lebar

Bu Djo sempat juga cerita. Ini agak menyentuh dunia metafisik gitu siy. Jadi saat menjenguk mbak riris di ICU ia selalu didatangi oleh orang yang sangat sangat Tua lalu menepuk pundaknya sambil menenangkan dan menyuruhnya untuk terus berdoa. Namun tak lama orang itu menghilang entah dimana. Tahu sendiri GBPT ini terkenal sangat sepi. Steril dari orang-orang yang tidak punya keperluan. (hiaa leherku jadi goosebump)

Epilog

Rumah Mbah Djo ini sangat sederhana, namun siapapun yang disana merasa sangaat nyaman. Suami istri ini ibadahnya jempol, ibadah sosialnya juga yahud. Yang namanya orang beriman itu salah satu tandanya walau telah renta tidak bosan dipandang. Terang benderang dengan nur ilahi. Nah kawan semoga ini bisa jadi pelajaran

 

Written by @astu_MD

26 Oktober 2012