Ketika seorang wanita pada fase dalam hidupnya, ditakdirkan menjadi pengemban amanah, menjadi seorang ibu.. Dalam 9 bulan hidupnya kelak hingga proses kelahiran, secara fisik maupun mental akan mengalami cobaan yang dramatis, mengharukan, dan terkadang mengancam jiwanya. Apa saja yang terjadi?
Saat kehamilan
Hiperemesis Gravidarum
Di kandungan seorang janin mengeluarkan hormone hcG (Human chorionic Gonadotrofin) yang kemudian beredar ke seluruh peredaran darah ibundanya tercinta.  Di satu sisi hormon ini sangat berguna untuk kelangsungan hidup janin itu sendiri, menciptakan atsmosfer bumi kandungan sehingga ia dapat tumbuh dan bernafas dengan leluasa. Akan tetapi disisi lain timbul lah efek samping yang cukup berat yang kadang dialami oleh sang ibu. Salah satunya adalah Hiperemesis Gravidarum atau muntah-muntah yang berlebihan dalam kehamilan terutama pada 14-16 minggu pertama.  Ketidakseimbangan hormone mengakibatkan mual dan muntah yang kadang berlebihan. Setiap kali makan, muntah. Setiap kali minum, juga muntah.. begitu berlebihan sehingga seorang ibu terancam dehidrasi (kekurangan cairan).. begitu berlebihan sehingga seorang ibu harus diberi cairan intra vena (Infus).
Gestational Diabetes (Diabetes dalam Kehamilan)
Human placental lactogen (hPL) yang diproduksi oleh placenta disamping akan memicu pemecahan lemak (lipolisis) dan asam lemak (fatty acid) tetapi juga dapat mengurangi sensitivitas jaringan terhadap insulin. Artinya insulin yang bertugas sebagai transportasi agar gula sampai kedalam jaringan liver, otot dan lemak tidak bekerja dengan baik. Akibatnya banyak gula yang menumpuk di ‘gudang’, ditambah Liver  berinisiatif membuat gula sendiri melalui glukoneogenesis. Akhirnya terjadilah yang dinamakan Gestational Diabetes dengan segala risikonya seperti bayi besar dan obesitas yang nantinya akan membuat kesulitan dalam persalinan
Perubahan yang lain
Menahan beban, tulang belakangnya akan sedikit tertekuk ke belakang, sehingga cara berjalannya tak lagi manis. Kadang kakinya bengkak karena pembuluh darah baliknya tertekan oleh janin. Kadang ia merasa sesak karena rongga perutnya membesar sehingga menekan paru-parunya. Berkurang pulalah kapasitas oksigen yang dapat ia simpan, karena harus menghidupi 2 orang ia sendiri dan janinnya. Seorang ibu bisa kekurangan nutrisi, kekurangan darah. Belum lagi ia harus berjuang karena berisiko terkena stroke, serangan jantung dan hipertensi karena darahnya mengental.
Saat Kelahiran
Di Indonesia. Angka Kematian Ibu masih tinggi yaitu 228 per 10.000 kelahiran. Terutama di daerah pedesaan dimana fasilitas kesehatan masih rendah. Banyak ibu yang meninggal karena pendarahan, infeksi dan hipertensi kehamilan (Pre Eklamsi – Eklamsi). Ketika seorang ibu melahirkan sebenarnya itu adalah perjuangan antara hidup dan mati, dengan rela ia mempertaruhkan nyawa. Dan tahukah kamu? Keadaan preeklamsi berat  adalah yang paling mengerikan. Yaitu adalah suatu keadaan dimana seorang ibu mengalami kenaikan tekanan darah hingga diatas 160/100 yang diikuti oleh kebocoran protein.
Kenaikan tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan pendarahan otak spontan yang mengakibatkan seorang ibu mengalami kejang-kejang, tidak sadar dan bila meluas akan menyebabkan kematian. Pada mata, tingginya tekanan darah dapat menyebabkan lapisan saraf mata (retina) dapat lepas sehingga menyebabkan kebutaan (Ablatio Retina). Tingginya protein yang bocor menyebabkan cairan dari dalam darah akan merembes keluar dari ‘pipa’ saluran darah sehingga menggenangi organ-organ dalam. tubuhnya menjadi begitu bengkak (edema anasarka). Menambah beban jantung yang kemudian lebih lanjut dapat menyebabkan paru-paru nya terendam oleh cairan
Belum lagi risiko pendarahan yang begitu banyak. Kalau dikota siy enak. Tinggal pesan PMI lalu mendapat transfuse. Bagaimana di daerah pulau yang terpencil? Masih adakah waktu?
Begitu besarnya risiko dan pengorbanan seorang ibu saat melahirkan maka Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa seorang ibu yang meninggal saat melahirkan maka ia akan tercatat sebagai syuhada. Orang yang mati syahid dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi menjadi ganjarannya.
Bagi seorang ibu, proses kehamilan dan melahirkan memang adalah proses yang sangat berat. Akan tetapi adakah ia mengeluh? Sekali-kali tidak. Yang terucap adalah rasa syukur dan doa agar anaknya lahir dengan sempurna, agar anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang berguna. Rasa sakit yang dirasakannya saat melahirkan akan segera berubah menjadi senyum bahagia saat melihat wajah putra/putri kecilnya, saat mendengar putra/putri kecilnya menangis dengan lantang, saat dokter berkata “ Selamat Ibu, putranya laki-laki/perempuan. Alhamdulillah sehat wal’afiat
Alloh SWT berfirman dalam surat Al-Ahqaf : 15
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Mampukah kita membayar semua pengorbanannya? Sesungguhnya yang kita mampu adalah berusaha sekuat tenaga untuk tetap membuatnya tersenyum, tidak menyakitinya baik dengan kata maupun perbuatan. Mendoakannya agar Alloh SWT berkenan mencintainya sebagaimana Ia merawat kita dengan penuh kasih sayang.  Kasih sayanglah yang sanggup meluluhkan gunung, mengeringkan samudera. Kasih sayang yang tulus tanpa mengharapkan imbalan. Untukmu ibu, untuk sejuta pengorbanan… :’)  (AST)
Astu Anindya Jati feat. Nindia Nurmayasari
Surabaya, 27 Februari 2011