Jangan mengaku arek Suroboyo atau pernah ke Suroboyo bila belum pernah ke tempat yang satu ini. Ekowisata Mangrove Wonorejo. Saya yakin banyak diantara teman-teman mbatin. Opo iku? Ono opo ae nang kono mas? Hehe.. Baiklah pengalaman ini akan saya bagi (Yang kebetulan masih segar dalam ingatan soalnya baru kemarin wkwkwk) mulai dari lokasinya, biayanya berapa, apa saja yang bisa dilihat and ya ditambah sedikit pengetahuan popular.  Cekidot!

LOKASI

Peta di google maps

Lihat di google maps untuk menuju kesana Anda harus menetapkan tujuan terelebih dahulu yaitu ke Bozem Wonorejo, dermaga tempat perahu berlabuh. Koordinatnya (-7.311633,112.822888)

Bagaimana mencapainya? Gampang! Cari dulu kampus Stikom yaitu di jalan kedung Baruk (Panjang jiwo terus atau bila lewat tol MER II C langsung belok kiri. Di sepanjang perjalanan Anda akan melewati sekolah IPH, kantor Taksi Orenz dan Kalimaya Steel. Lurus saja mengikuti jalan. Semua ada petunjuk arahnya kok. Besar-besar.

Jangan heran dalam perjalanan, selepas jalan beraspal, dari stikom 3 km. Anda akan melewati jalan kampung yang sempit, lalu lebih menyedihkan setelah gerbang pintu masuk akan melewati jalan berpasir, berlika-liku dan bergelombang (semi offroad) sekitar 2 km).  Untuk sedan masih bisa kecuali yang ceper

Samping kiri kanan pemandangan ada tambak , beberapa kolam pancing dan sudah bisa dilihat pula sebagian hutan bakau.

Dermaga Bozem Wonorejo

Sampai di dermaga Anda akan diajak naik perahu motor berkapasitas sekitar 20 orang. Dikenakan biaya 25.000 IDR / orang. Anda akan didampingi oleh Guide local yang juga aktivis lingkungan.

Dalam perjalanan naik perahu Anda akan disugi pemandangan yang eksotis. Seperti menyusuri Amazon saja. Samping kiri kanan ada hutan bakau dan jika beruntung Anda akan melihat beberapa spesies burung dan monyet ekor panjang. (Pada waktu itu kami hanya melihat beberapa semacam bangau putih)

Yang paling saya suka adalah saat berada di ‘muara’. Berhadapan langsung dengan laut lepas. Sooo beautiful. Disini Anda akan diturunkan di sebuah dermaga bambu untuk kemudian menempuh track yang juga terbuat dari bamboo dan gedheg.

The Forest and the Gazebo

Hiaa buat yang suka narsis atau hobi Fotografi sip lah. Baguus banget. Serasa di belahan dunia manaaa gitu hehe.. Jadi sepanjang track dikelilingi hutan bakau yang begitu rimbun. Saat pasang, Anda akan dikelilingi oleh air laut, bila surut hanya terlihat endapan lumpur.

Air pasang saat pagi hingga siang dan akan surut menjelang sore. Masing-masing track akan berujung ke Gazebo yang juga indah. Bila pagi akan pedagang lokal yang menawarkan Bandeng lempung bakar, sirup mangrove dsb.

Jalan-jalan akan diberi waktu sekitar 1 jam. Setelah itu Anda akan dihimbau untuk segara kembali bersama rombongan. Pada waktu itu kami sampai pukul 16.00 WIB dan kembali pukul 17.15

Biological Threat

Hati-hati bila menjelang magrib Nyamuknya ganas. Tajam dan sangat gatal. Sediakan krim anti nyamuk dan jangan gunakan rok mini atau semacamnya hehe.. karena bisa ‘berbahaya’

Short History

Ya Ekowisata ini didirikan atas inistiatif lurah wonorejo bekerjasama dengan Kepolisian setempat. FKPM (Forum Kemitraan Polisi-Masyarakat) tanggal 1 Juli 2009.

Mengapa ada Polisi? Karena disitu serang terjadi penebangan liar yang mengganggu ekosistem. Jadi ada tuh sebelum dijadikan tempat wisata, ada polisi air yang berkeliling mengawasi hutan bakau.

EWM diresmikan oleh walikota 9 Agustus 2009 oleh walikota Surabaya Bambang DH. Bersamaan dengan peresmian Gazebo mangrove.

EWM ini menjadi wisata yang rekreatif dan edukatif. Alternatif daripada cuman jalan-jalan di mall.

Hutan bakau adalah pelindung dari badai garam, Filter dari racun laut, tempat tinggal berbagai spesies flora dan fauna  (15 spesies mangrove, 83 spesies burung, 7 spesies primata dan 53 spesies serangga) , sumber plasma nutfah, penyerap karbon sekaligus reduktor global warming.

Dan Luas Hutan Bakau di Indonesia itu terluas di Dunia sebanding dengan garis pantainya. Luasnya mencapai  2,5 hingga 4,5 juta hektar . Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).

Mudah-mudahan setelah berwisata kesini kita selain untuk menyegarkan fikiran, mereduksi stress metropolis – (bayangin hampir tiap hari kita berkutat dengan gedung2 tinggi, macet dan kendaraan bermotor). Juga semakin tertanam dalam benak kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekologis. Juga memicu corporate atau komunitas untuk menanam lebih banyak pohon. Kalau bukan dari kita, siapa lagi? (AST)

@astu_MD