Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (QS 3:185)

Ramadhan hari ke 29 ayahanda dari Prima dan Kunyiet telah meninggal dunia karena serangan jantung. Tepat setelah sahur dan mandi pagi ketika akan bersiap melakukan shalat Shubuh.

Tentu saja hal ini menimbulkan duka yang mendalam untuk keluarga yang ditinggalkan apalagi terjadi tepat sehari sebelum Idul Fitri dimana seharusnya penuh dengan suka cita.

Tapi guru saya, om priyadi pernah mengatakan. Di saat ada orang yang meninggal, kita tidak boleh bilang “Ikut berduka cita” atau sejenisnya.. cukup katakan Innalillahii wa inna ilaihi roji’un dan Alhamdulillah..

Lho mengapa Alhamdulillah om? Karena orang-orang yang meninggalnya khusnul khotimah akan berada di lindungan dan rahmat-Nya. Justru mereka akan bergembira disisi Tuhan-Nya.

Ayah Amin sempat menjadi imam shalat tarawih di Masjid. Dan setelah usai beliau menangis, Ia sangat bersyukur dapat melaksanakan shalat Tarawih yang terakhir. Tiada yang mengira bahwa itu benar-benar yang terakhir dalam hidup beliau.

Beliau juga sempat bertemu dengan Prima dan Kunyit yang selama ini berada di luar Jawa. Bahkan juga sempat menyiapkan 2 nama untuk calon cucu pertamanya. Nama Laki-laki dan nama perempuan.

1 hal yang mungkin juga firasat dan pertanda. Prima sempat bersikeras agar seluruh keluarganya pada saat idul fitri kelak memakai baju putih. “Tapi nak Ayah ingin memakai baju biru” kata ibunda. “tidak bunda, semuanya harus memakai baju putih”

Subhanallah. Melihat tanda-tanda Nya semoga beliau termasuk dari golongan yang khusnul khotimah. Ayahanda dan imam yang begitu mencintai Alloh wa rasul, dan keluarganya

Selamat jalan ayah Amin…

 

Surabaya, 19 Agustus 2012

1 Syawal