american military doctor treating the foot of a man in Bangladesh (acclaimimages.com) accessed : 21 Juli 2012 13.18

Saya mempunyai seorang kawan, dokter TNI. Ia sempat bercerita tentang kesehariannya di Militer. Tentang latihan, isi ransel, pengalaman saat pendidikan, cara memanggil kakak kelas, Hierarki militer dan sebagainya. Apa saja isi pembicaraannya? Yuks kita ikuti sama-sama

  • Apa aja si Bang isi ransel kalo misalnya pas perang tuh?
    • Intinya peralatan untuk survival.
  1. Beras 15 kg
  2. Kompor kecil paraffin
  3. Botol air minum dengan panci kotak
  4. Mie instan 15 bungkus
  5. Selimut
  6. Tenda darurat.
  7. Cairan infuse
  8. Pakaian satu stel
  9. Sepatu 1 pasang
  • Total berat nya mencapai 35 kg
  • Jenjang karir dokter TNI max bisa sampai bintang 2 bila spesialis. Tapi untung-untungan karena Nasional hanya ada 6 orang bintang 2
  • TNI itu seperti negara dalam negara yang didesain apabila negara kacau balau bisa mendirikan pemerintahan darurat. Karena secara struktural lengkap dari pimpinan, ada bagian keuangan, kesehatan, pendidikan dsb
  • Ada teori konspirasi bahwa isu dewan jenderal pada tahun 1965 bisa saja benar. Arena negara dalam keadaan giyah. PKI waktu itu takut bila itu terjadi karena mereka pasti kalah. Dan terjadilah G30S PKI. Penuh kontroversi memang
  • Panglima ABRI sekarang digilir antara Darat, Laut dan Udara
  • Karier seorang anggota TNI akan cepat naik kalau ia patuh dan mau dipindah-pindah.
  • Anggota TNI AD bisa memilih dengan bebas program spesialisasi. Tidak seperti di AL yang ditentukan sejak awal sesuai kebutuhan. Izin sekolah juga turun lebih cepat
  • Waktu pendidikan isi tas diisi pasir dan disuruh jalan kemana-mana. Apabila ketiduran saat kuliah ditempeleng lalu disuruh push up atau cuci muka
  • Pernah punya pengalaman orang dengan luka bakar 100% karena minyak tanah diganti bensin. Meledaklah ia. Karena di Indonesia timur kalo orang bilang mau beli minyak maka yang diberi adalah bensin
  • Banyak dokter spesialis yang tidak kerasan di daerah salah satunya karena sulitnya akses, intensif yang kurang memadai sedangkan biaya hidup sangat tinggi, dan belum begitu adilnya pembagian pasien menurut spesialisasinya. Jadi kadang overlapping penyakit saraf ditangani interne dan kasus ortopaedi ditangani oleh bedah umum
  • Dokter spesialis TNI tidak perlu ikut sesko untuk naik tingkat.
  • Antara anggota TNI memanggil kakak kelasnya dengan “Bang”

Begitulah sekilas pembicaraan saya. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan