Sambil berkendara setelah jaga malam. Saya rutin mendengarkan elvictor FM Surabaya. Pada pagi hari jam 6.30-08.00 ada program syiar pagi. Setiap hari Jum’at , pembicaranya ust. Sumardi Herlambang. Ahli tafsir Al-Qur’an

Pada kesempatan ini beliau mengisahkan sebuah kisah menarik tentang sufi.  Begini ceritanya

Alkisah pada abad ke 8 ada pertemuan 2 orang sufi besar. Yang pertama adalah Ibrahim bin Adham (718-782M) dan muridnya Syaqiq Al-Balkh (?-810M). 2 orang sufi ini sangat berbeda dalam menempuh jalan sufi nya. Ibrahim bin Adham meninggalkan semua pernak-pernik dunia dan memilih ,menyendiri di hutan dan berkelana dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hidupnya sangat-sangat miskin

Syaqiq Al-Balkh kebalikannya, Ia begitu sangat kaya raya. Kudanya adalah kuda terbaik, setiap ia pergi kantongnya selalu penuh dengan emas.

Dan merekapun bertemu. Ibrahim bin Adham berucap kepada Syaqiq Al Balkh. “Hai Hamba dunia, yang selalu membawa dunia kemanapun engkau pergi!”

Syaqiq kemudian tersenyum. Ia sama sama sekali tidak tersinggung. Lalu merekapun di suatu kesempatan merekapun saling berdialog.

“Wahai guru, ceritakanlah sesuatu yang membuatmu besar dan mulia seperti sekarang ini” Tanya Syaqiq

“Dahulu , aku adalah penguasa yang kaya raya, lalu saat kami pergi berburu, seseorang dari tentaraku berhasil memanah seekor burung. Sehingga patah kedua sayapnya.. lalu aku mendekati burung yang terkapar dan berkata ‘ “Wahai burung yang malang, rupanya ajalmu sudah dekat, kau tak lagi bisa terbang dan mencari makan” ‘

Kemudian, disaat aku mulai meninggalkan burung kecil itu, datanglah burung yang besar. Ia mencengkram burung kecil itu, lalu membawanya ke sebuah danau. Kuamati setiap gerak geriknya

Tidak berhenti sampai disitu, datang lagi burung besar yang membawakan ulat dan serangga sehingga burung kecil ini bisa makan

Perlahan burung kecil ini mulai kuat dan dapat kembali lagi terbang!

Dari sini aku belajar bahwa bila Alloh tidak menakdirkan burung itu mati kelaparan, maka burung kecil itu tidak akan mati karena Alloh menjamin rizkinya. Apalagi manusia yang diberi akal untuk selalu menyembah-Nya. Pastilah akan memberiku rezeki dimanapun aku berada

Setelah itu kuputuskan untuk meninggalkan seluruh kekuasaan dan hartabendaku, kutinggalkan pula keluargaku untuk sepenuhnya mengabdi kepada-Nya. Berkeliling dan beribadah dari satu tempat ke tempat yang lain”

Sambil manggut-manggut. Syaqiq Al-Balkh lalu bertanya kepada gurunya “Wahai gurunda, mengapa Anda memilih untuk menjadi burung yang lemah dan menunggu untuk disuapi? Mengapa tidak menjadi burung besar yang melindungi dan merawat burung yang kecil?”

Tersentak dengan perkataan muridnya, Ia baru menyadari bahwa jalan sufinya selama ini salah. Ia pun  bekerja kembali, bercocok tanam dengan murid-muridnya dan kemudian membagi-bagikannya hingga ke Syiria

Kawan , bagaimanapun tangan diatas itu jauh lebih baik, Jika kita melihat sahabat-sahabat Nabi SAW, Utsman,Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf, semuanya kaya raya dan mereka menafkahkan hartanya di Jalan Alloh.

Ust. Sumardi lalu menambahkan. “Miskin itu dosa! Karena kita tidak memaksimalkan potensi yang ada pada kita. Tidak menyukuri nikmat akal, fisik, mental yang telah diberikan Alloh. Kita memilih untuk miskin!”

So tweeps mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam egoisme spiritual .. Seperti doanya Abu bakar As-Shiddiq “Ya Alloh jadikanlah dunia di anganku tapi tidak di hatiku” Milikilah harta sebanyak mungkin, gunakan di jalan-Nya akan tetapi jangan engkau terlalu mencintainya sehingga mengundang murka dari-Nya

Wassalamualaikum. Selamat menunaikan ibadah Jum’at

Jum’at, 18 Mei 2012 by: Astu Anindya Jati / @astu_MD