Pada saat shalat Maghrib berjamaah di Masjid Sabililllah, tidak biasanya setelah itu ada tauziyah dari ustadz muda dari Jakarta. Ternyata ia tidak sendirian tapi ber 12.

Mereka sedang melakukan semacam perjalanan spiritual dengan tujuan membersihkan hati dengan tinggal dan shalat dari satu masjid ke masjid yang lain, dari Surabaya menuju Jombang selama kurang lebih 60 hari

Yang menarik dari mereka adalah, mereka tidak datang dengan membawa panji politik atau golongan. Mempunyai guru yang berbeda-beda.  Murni karena ikhwanul muslimin. Persaudaraan. Kata salah satu dari mereka, jika tidak begini umat islam tidak akan bersatu, tidak akan mengenal satu sama lain

Salah satu yang pada waktu itu mendekati saya adalah mas Edi. Ia menyapa saya yang pada saat itu tepat berada di belakangnya.

Ngobrol-ngobrol tentang ilmu. Ia mengajari banyak hal tentang shalat dan keutamaan masjid

  • Shalat itu seperti kita mandi di sungai sebanyak 5x tiap hari. Niscaya tidak ada kotoran yang melekat
  • Jika fisik kita yang sakit mudah untuk mendiagnosa dan mencari obat, tapi bila hati yang sakit, salah satu obat nya adalah sholat. Setiap kita mendirikan shalat, malaikat juga shalat, mendoakan kita agar Alloh memberikan berkah dan ampunan
  • Malaikat itu ibarat perawat hati kita, masjid adalah rumah sakit untuk rawat inap. Di dalam masjid hati kita benar-benar dibersihkan
  • Orang yang benar-benar mendirikan (bukan mengerjakan) shalat. Akhlaknya juga otomatis bersih pula
  • Shalat itu ada bermacam tingkat kekhusyukannya, ada yang ketika shalat hanya memikirkan urusan dunia, ada yang ingat akhirat hanya pada saat awal dan akhir shalat, ada yang full mengingat Alloh
  • Gerakan cinta Masjid ini mengajak manusia untuk kembali memakmurkan masjid. Biasanya kan habis shalat langsung ngacir. Dan juga menumbuhkan semangat silaturahmi dengan masyarakat di sekitar masjid
  • Keluarganya ditinggal? Rezeki, umur dan kematian itu sudah ada yang mengatur. Jangan sampai kita disetir oleh dunia

Selain bertemu dengan mas Edi, saya juga bertemu dengan Pak Peni, pensiunan perkapalan teman papa Ris yang masih tetap bersemangat untuk ibadah

Itulah sekelumit pengalaman saya. Mudah-mudahan bermanfaat

Astu Anindya Jati

16 Mei 2012 3.28 AM