Home

MEMORABLE QUOTES OF “STRATEGI HIDEYOSHI-ANOTHER STORY OF THE SWORDLESS SAMURAI” by Tim Clark, Mark Cunningham

Leave a comment

  • Kapan kita akan meraih tujuan kalau bukan sekarang, Gonsuke?
  • Pendeta berkata ada dua jenis pengetahuan. Satu adalah dengan mempelajari ketrampilan, dan satu lagi dengan belajar bagaimana belajar. Kita belum tahu bagaimana cara mengejar kebahagiaan
  • Tidak jarang orang melihat diri mereka sendiri pada sosok orang lain
  • Kebanyakan orang memilih bersilat lidah selama satu jam daripada mendengarkan nasihat dari seseorang yang bijak selama sepuluh menit
  • Teknik semata tidak akan bisa menandingi kerja tim
  • Pengabdian, kerja keras, rasa syukur
  • Terbayangkan berarti terjangkau
  • Membayangkan maksudnya mengkhayalkan sesuatu yang benar-benar mungkin
  • Pengelana tanpa arah tidak bisa berharap akan sampai di tempat manapun
  • Dalam setiap perjalanan, orang harus tahu persis tujuannya
  • Sekarang aku paham, makna kehidupan bukanlah untuk dilayani, tapi melayani . Dan hanya jiwa yang bersyukurlah yang bisa member pelayanan seperti seharusnya
  • Rasa syukur mengundang keberuntungan
  • Kenali bakatmu
  • Pedomanku adalah adalah berkerja dua kali lebih keras dibandingkan siapapun disekitarku. Lakukan secepat mungkin dengan hati yang gembira
  • Jika kalian bekerja pada seseorang, bekerjalah dengan benar!
  • Usaha setengah-setengah menghasilkan hasil setengah-setengah. Usaha baik membuahkan hasil yang baik, tapi usahan yang luar biasa membuahkan hasil yang luar biaa
  • Usaha menentukan hasil!
  • Seorang pemimpin harus berbagi keberhasilannya dengan orang lain, dan harus membantu orang-orang yangkurangmamou agar bisa mengembangkan kemampuannya
  • Kerjasama melahirkan keberhasilan
  • Dalam mengejar keberuntungan, kita harus membentengi diri dari niat-niat kotor dan berusaha bertindak dengan keberanian dan penuh kepribadian, jujur serta terhormat
  • Keberuntungan ditingkatkan melalui usaha manusia sendiri
  • Dari pengalaman Kichibei, aku melihat betapa seseorang bisa mengasah bakatnya melalui pengabdian tanpa kenal putus asa sehingga keberuntungan dapat menghampirinya
  • Hanya manusia yang siaplah yang bisa meraih dan mendapatkan keberuntungan
  • ‘nasib baik’ hanya punya satu makna, yaitu memanfaatkan kesempatan
  • Yakni perjuangan kehidupan, yang menjadikan seseorang sebagai manusia seutuhnya
  • Yakinlah bahwa rasa syukur mengundang keberuntungan
  • Ketika kau menikmati air sungai, Janganlah lupa mata airnya (Ikkyu)
  • Kekayaan akan menjadi sia-sia di tangan orang yang tak tahu bersyukur
  • Jika kau punya otak untuk memahami, gunakanlah untuk memperhatikan dengan serius
  • Lima tahun untuk mencari nafkah, sepuluh tahun untuk menjadi ahli
  • Perhatian serius terhadap karya seseorang akan melahirkan kecintaan kepada pekerjaan itu
  • Darimulah aku belajar mengambil hikmah dari seorang yang berpengetahuan ketika aku tidak yakin akan bakatku sendiri. Darimulah aku belajar untuk tidak mengutamakan memiliki bakat , akan tetapi mengembangkannya
  • Dan sekarang aku paham, semua manusia yang bersyukur tentu bisa meraih keberhasilan asalkan mereka berusaha keras memanfaatkan bakat mereka –Taro
  • Mulailah dengan sesuau yang terjangkau. Sesuatu yang sederhana dan mungkin untuk dilakukan adalah mengumpulkan pengetahuan
  • Bertahap, disiplin
  • Rahasia Hideyoshi : Rasa syukur, sadar akan bakatnya, tujuan yang bisa dicapai, pengerahan usaha yang luar biasa, dan kerjasama yang kuat
  • Pengetahuan bukan tujuan tapi sarana mencapai kebijaksanaan
  • Emosi etika lebih penting dari intelek
  • Keberanian sejati adalah hidup itu benar dan mati apabila mati itu benar
  • Syarat utama seorang pemimpin adalah kemuliaan
  • Kesederhanaan adalah syarat yang harus dipenuhi oleh kalangan pejuang
  • Jangan mencela siapa-pun akan tetapi waspadalah selalu atas kekuranganmu sendiri
  • Kesabaran adalah landasan umur panjang —Tokugawa Ieyasu
  • Orangtualah yang melahirkan aku, gurulah yang menjadikanku manusia
  • Menunjukkan emosi dipandang sikap yang tidak kesatria bagi seorang samurai
Advertisements

Hebatnya tawakal, Kisah Fardian (Based on true story)

Leave a comment

Sudah hampir 4 tahun, Sahabat saya, Fardian dan Nia mendambakan seorang anak. Tidak hanya mereka, namun juga seluruh keluarga besarnya.

Karena Nia anak tunggal, sedangkan saudara-saudara Fardian sudah divonis tidak akan bisa mempunyai keturunan.

Segala program kehamilan sudah di tempuh mulai dari pengaturan masa subur, inseminasi dan bahkan bayi tabung. Namun hanya berujung duka. Beberapa kali Nia keguguran karena embrio nya gagal menempel di dinding rahim (endometrium)

Sampai suatu ketika Fardian menyuruh Nia untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai dokter UGD dan menggantinya dengan praktek di rumah.

Ketika semuanya seems hopeless, mentok kalau orang Jawa bilang. Fardian lalu merenung, diam, bertafakkur. “Ya Rabb. Seluruh cara sudah kami lakukan, Maafkan jika selama ini kami sedikit melupakan mu. Dikuasai akal kami bahwa 1+1=2, Maafkan jika kami terlalu mengandalkan logika dan menganggap teknologi dapat membuat kami mempunyai keturunan. Sekarang kami sadar Ya Rabb. Bahwa segala hal tidak akan terjadi tanpa izin-Mu dan sebaliknya jika Engkau berkehendak, maka tiada sesuatu apapun yang dapat menghalangi”

Fardian dan Nia akhirnya sampai pada titik ikhlas. Ia memasrahkan semua kepada-Nya. Lenyap sudah rasa takabur dan tekanan batin yang mendera.

Fardian memutuskan mengambil cuti, mengajak Nia berlibur ke pulau Sapudi dimana ia bisa menghabiskan waktu berdua saja. Mengulang masa-masa indah disaat awal pernikahan..

1 bulan kemudian, tepat disaat Fardian lulus seleksi Program Pendidikan Spesialis, Nia hamil.. iya hamil. Tanpa proses yang rumit, alami dan wajar..

Man haitsu la yahtasib.. Jika Alloh mencintai hamba-Nya maka diberinya rizki yang tidak disangka-sangka, unpredicted! Surprise! Karena dengan begitu mereka sadar bahwa rezekinya selama ini adalah pemberian Tuhan, bukan atas usahanya semata

Kini, Nia sudah hamil 6 bulan, Fardian melanjutkan sekolah untuk menjadi ahli bius.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (QS 65:3)

“ Keberuntungan adalah ketika kesiapan bertemu dengan kesempatan”

 

Based on true story. Nama disamarkan

Surabaya, 24 April 2012

Astu Anindya Jati

 

 

Lebih baik mana? Sufi melarat atau kaya raya? (Hikayat Ibrahim ibn Adham)

4 Comments

Sambil berkendara setelah jaga malam. Saya rutin mendengarkan elvictor FM Surabaya. Pada pagi hari jam 6.30-08.00 ada program syiar pagi. Setiap hari Jum’at , pembicaranya ust. Sumardi Herlambang. Ahli tafsir Al-Qur’an

Pada kesempatan ini beliau mengisahkan sebuah kisah menarik tentang sufi.  Begini ceritanya

Alkisah pada abad ke 8 ada pertemuan 2 orang sufi besar. Yang pertama adalah Ibrahim bin Adham (718-782M) dan muridnya Syaqiq Al-Balkh (?-810M). 2 orang sufi ini sangat berbeda dalam menempuh jalan sufi nya. Ibrahim bin Adham meninggalkan semua pernak-pernik dunia dan memilih ,menyendiri di hutan dan berkelana dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hidupnya sangat-sangat miskin

Syaqiq Al-Balkh kebalikannya, Ia begitu sangat kaya raya. Kudanya adalah kuda terbaik, setiap ia pergi kantongnya selalu penuh dengan emas.

Dan merekapun bertemu. Ibrahim bin Adham berucap kepada Syaqiq Al Balkh. “Hai Hamba dunia, yang selalu membawa dunia kemanapun engkau pergi!”

Syaqiq kemudian tersenyum. Ia sama sama sekali tidak tersinggung. Lalu merekapun di suatu kesempatan merekapun saling berdialog.

“Wahai guru, ceritakanlah sesuatu yang membuatmu besar dan mulia seperti sekarang ini” Tanya Syaqiq

“Dahulu , aku adalah penguasa yang kaya raya, lalu saat kami pergi berburu, seseorang dari tentaraku berhasil memanah seekor burung. Sehingga patah kedua sayapnya.. lalu aku mendekati burung yang terkapar dan berkata ‘ “Wahai burung yang malang, rupanya ajalmu sudah dekat, kau tak lagi bisa terbang dan mencari makan” ‘

Kemudian, disaat aku mulai meninggalkan burung kecil itu, datanglah burung yang besar. Ia mencengkram burung kecil itu, lalu membawanya ke sebuah danau. Kuamati setiap gerak geriknya

Tidak berhenti sampai disitu, datang lagi burung besar yang membawakan ulat dan serangga sehingga burung kecil ini bisa makan

Perlahan burung kecil ini mulai kuat dan dapat kembali lagi terbang!

Dari sini aku belajar bahwa bila Alloh tidak menakdirkan burung itu mati kelaparan, maka burung kecil itu tidak akan mati karena Alloh menjamin rizkinya. Apalagi manusia yang diberi akal untuk selalu menyembah-Nya. Pastilah akan memberiku rezeki dimanapun aku berada

Setelah itu kuputuskan untuk meninggalkan seluruh kekuasaan dan hartabendaku, kutinggalkan pula keluargaku untuk sepenuhnya mengabdi kepada-Nya. Berkeliling dan beribadah dari satu tempat ke tempat yang lain”

Sambil manggut-manggut. Syaqiq Al-Balkh lalu bertanya kepada gurunya “Wahai gurunda, mengapa Anda memilih untuk menjadi burung yang lemah dan menunggu untuk disuapi? Mengapa tidak menjadi burung besar yang melindungi dan merawat burung yang kecil?”

Tersentak dengan perkataan muridnya, Ia baru menyadari bahwa jalan sufinya selama ini salah. Ia pun  bekerja kembali, bercocok tanam dengan murid-muridnya dan kemudian membagi-bagikannya hingga ke Syiria

Kawan , bagaimanapun tangan diatas itu jauh lebih baik, Jika kita melihat sahabat-sahabat Nabi SAW, Utsman,Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf, semuanya kaya raya dan mereka menafkahkan hartanya di Jalan Alloh.

Ust. Sumardi lalu menambahkan. “Miskin itu dosa! Karena kita tidak memaksimalkan potensi yang ada pada kita. Tidak menyukuri nikmat akal, fisik, mental yang telah diberikan Alloh. Kita memilih untuk miskin!”

So tweeps mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam egoisme spiritual .. Seperti doanya Abu bakar As-Shiddiq “Ya Alloh jadikanlah dunia di anganku tapi tidak di hatiku” Milikilah harta sebanyak mungkin, gunakan di jalan-Nya akan tetapi jangan engkau terlalu mencintainya sehingga mengundang murka dari-Nya

Wassalamualaikum. Selamat menunaikan ibadah Jum’at

Jum’at, 18 Mei 2012 by: Astu Anindya Jati / @astu_MD

Masjid itu rumah sakitnya hati

Leave a comment

Pada saat shalat Maghrib berjamaah di Masjid Sabililllah, tidak biasanya setelah itu ada tauziyah dari ustadz muda dari Jakarta. Ternyata ia tidak sendirian tapi ber 12.

Mereka sedang melakukan semacam perjalanan spiritual dengan tujuan membersihkan hati dengan tinggal dan shalat dari satu masjid ke masjid yang lain, dari Surabaya menuju Jombang selama kurang lebih 60 hari

Yang menarik dari mereka adalah, mereka tidak datang dengan membawa panji politik atau golongan. Mempunyai guru yang berbeda-beda.  Murni karena ikhwanul muslimin. Persaudaraan. Kata salah satu dari mereka, jika tidak begini umat islam tidak akan bersatu, tidak akan mengenal satu sama lain

Salah satu yang pada waktu itu mendekati saya adalah mas Edi. Ia menyapa saya yang pada saat itu tepat berada di belakangnya.

Ngobrol-ngobrol tentang ilmu. Ia mengajari banyak hal tentang shalat dan keutamaan masjid

  • Shalat itu seperti kita mandi di sungai sebanyak 5x tiap hari. Niscaya tidak ada kotoran yang melekat
  • Jika fisik kita yang sakit mudah untuk mendiagnosa dan mencari obat, tapi bila hati yang sakit, salah satu obat nya adalah sholat. Setiap kita mendirikan shalat, malaikat juga shalat, mendoakan kita agar Alloh memberikan berkah dan ampunan
  • Malaikat itu ibarat perawat hati kita, masjid adalah rumah sakit untuk rawat inap. Di dalam masjid hati kita benar-benar dibersihkan
  • Orang yang benar-benar mendirikan (bukan mengerjakan) shalat. Akhlaknya juga otomatis bersih pula
  • Shalat itu ada bermacam tingkat kekhusyukannya, ada yang ketika shalat hanya memikirkan urusan dunia, ada yang ingat akhirat hanya pada saat awal dan akhir shalat, ada yang full mengingat Alloh
  • Gerakan cinta Masjid ini mengajak manusia untuk kembali memakmurkan masjid. Biasanya kan habis shalat langsung ngacir. Dan juga menumbuhkan semangat silaturahmi dengan masyarakat di sekitar masjid
  • Keluarganya ditinggal? Rezeki, umur dan kematian itu sudah ada yang mengatur. Jangan sampai kita disetir oleh dunia

Selain bertemu dengan mas Edi, saya juga bertemu dengan Pak Peni, pensiunan perkapalan teman papa Ris yang masih tetap bersemangat untuk ibadah

Itulah sekelumit pengalaman saya. Mudah-mudahan bermanfaat

Astu Anindya Jati

16 Mei 2012 3.28 AM