Anda mungkin tidak menyadari bahwa kita begitu dekat dengan yang sumber-sumber Merkuri, sebut saja seafood, baterai koin, vaksin, pemutih wajah, termometer air raksa, lampu fluoresen merkuri, letusan vulkanik, asap industri berbahan batubara dsb

Seberapa jauh logam berat ini memberikan efek biologis? Apa yang sebenarnya terjadi dengan teluk Minamata? Teluk Buyat? Bagaimana cara masuknya ke dalam tubuh kita? Bisakah dihindari atau disembuhkan? Apakah vaksin menyebabkan autism?

Temukan jawabannya disini!

Mercury and it’s environmental disaster

Minamata Disease

Padatahun 1956, Dunia pernah dihebohkan oleh penemuan tingginya kadar merkuri. Jauh melebihi ambang batas di teluk Minamata Jepang.

Chisso corporation, pabrik kimia pembuat asetaldehide menggunakan merkuri sulfat sebagai katalis dan membuangnya begitu saja di teluk Minamata

Akibatnya banyak penduduk sekitar yang mengkomsumsi ikan laut yang telah tercemar metilmerkuri, mengalami kelainan sistem saraf seperti ataxia, mati rasa (parestesia) di telapak tangan dan kaki, penyempitan lapang pandang, kerusakan pendengaran dan bicara, kegilaan, paralisis, koma, kematian dan cacat janin.

Selanjutnya penyakit ini dinamakan Minamata Disease

Sampel rambut penduduk Minamata tercatat  menunjukkan kadar merkuri hingga 705 ppm (part per million) padahal normalnya hanya 4 ppm. Very toxic!

Pernyataan resmi pada Maret 2001. Penyakit ini telah memakan korban sebanyak 2.265 orang (1.784 diantaranya telah meninggal). Sampai 2004, lebih dari 10.000 orang mendapat kompensasi finansial sebesar 86 juta dollar dari Chisso corp.

Chisso corp. pada akhirnya terbukti bersalah dan harus mengentikan aktivitas pabrik dan melakukan pembersihan limbah di Teluk Minamata

Buyat Disease

Pada tahun 2005, di Teluk Buyat Sulawesi Utara. Sejak PT Newmont Minahasa Raya melakukan aktivitas pertambangan emas dan menggunakan merkuri sebagai bahan untuk mengendapkan emas, dan mengalirkan tailing (limbah tambang) sedalam 82m di perairan Teluk Buyat,  Banyak penduduk yang mengeluhkan benjolan-benjolan abnormal, pusing, kelumpuhan, dan penyakit kulit yang aneh. Pendapatan mereka juga menurun drastis karena tidak lagi banyak ikan yang bisa ditangkap

Beberapa survey independen dari beberapa LSM, melakukan pemeriksaan laboratorium pada endapan teluk buyat dan menemukan kadar merkuri hingga 1000 mikrogram/kg (Standar ASEAN 400 mikrogram/kg)

Seperti pada kasus Minamata, ada perang klaim hasil penelitian antara LSM dan PT NMR. Siapa yang benar?. Still remains mistery. Apapun itu penduduk Buyat akhirnya atas inisiatif sendiri pindah dari Teluk Buyat, mereka menghancurkan sendiri rumah-rumah yang telah mereka bangun dengan susah payah selama 10 tahun terakhir. Sebagian dari merekapun harus berganti profesi menjadi petani

Mercury and it’s biological threat – Routes of Action

Ada 3 macam bentuk dari Merkuri. Elemental mercury, Yaitu Merkuri yang masih dalam bentuk elemen atau logam, Anorganic mercury  yaitu merkuri dalam bentuk ikatan/senyawa garam anorganik, dan yang terakhir organic mercury yaitu ketika merkuri berikatan dengan alkil karbon. Masing-masing mempunyai sifat dan toksisitas yang berbeda bila masuk ke dalam tubuh manusia

Elemental Mercury

Elemental mercury mempunyai sifat sukar diserap oleh kulit, tidak larut air dan tidak larut lemak sehingga toksisitasnya akan rendah bila ditelan mentah-mentah.

Sebenarnya baru menjadi ancaman ketika elemental mercury itu karena pemanasan dosis tinggi, menguap dan kemudian masuk ke dalam paru-paru.

Risiko tinggi adalah pada saat letusan vulkanis, pembakaran batubara, crematorium dan juga pada pekerja pada pabrik semen, non ferrous metal production, Pabrik Baja.

Uap merkuri yang terhirup berpotensi menimbulkan emboli (pembuntuan) paru-paru, memicu alergi,  kelainan saraf dan sindroma neuropsikiatri seperti : Emosi yang labil, Nyeri kepala, tremor, nervous, rasa malu yang berlebihan, polineuropati, penurunan memori dan kognitif)

Merkuri elemental juga terdapat pada produk baterai koin, thermometer dan tensimeter air raksa, tambal gigi / amalgam. Seharusnya memang ada peraturan atau kebijakan dari pemerintah untuk mendaur ulang produk-produk seperti ini.sehingga tidak mencemari tanah atau ikut terbakar saat pembakaran sampah

Anorganic Mercury

Sifatnya larut air tapi tidak larut lemak dan dapat diserap melalui kulit. Saat tertelan 10% nya akan diserap melalui saluran cerna dan kemudian  dapat menimbulkan efek nefrotoksik atau keracunan berat pada ginjal

Anorganic mercury ini biasa digunakan pada pertambangan emas untuk membantu mengendapkan emas dan pabrik kimia seperti asetaldehide, asetilen, asam asetat sebagai katalis.

Mercury in cosmetics

Mercury (II) chloride juga digunakan pada beberapa produk krim pemutih (whitening cream). Kadarnya bahkan ada yang sampai 9000-60.000 kali dosis yang dianjurkan.

Di Indonesia, 26 November 2011 yang lalu BPOM mengumumkan 27 merk kosmetik yang terbukti mengandung Mercurous chloride, Asam retinoid, Rhodamin. 11 produk dari Jepang dan Cina, 8 produk local dan 6 tidak terdaftar secara resmi.

Efeknya kosmetik ini berpotensi menimbulkan bintik hitam, alergi, iritasi kulit, kerusakan permanen pada sistem saraf pusat (otak), ginjal, gangguan dan cacat janin (teratogenik).

Kosmetik ini biasanya menjanjikan efek putih dalam waktu yang singkat. Misalkan hanya dalam seminggu. Padahal sebenarnya ada Rebound Effect, artinya sesaat memang akan menjadi putih namun setelah pemakaian dihentikan kulit akan menjadi kusam/hitam dan timbul flek yang parah dan lebar.

Organic Mercury

Merkuri organik adalah yang paling toksik. Berasal dari Merkuri Anorganik yang kemudian diubah menjadi Metil merkuri oleh bakteri pada endapan dan air yang bersifat asam.

Organic mercury memiliki kelarutan yang tinggi terhadap lemak dan tersebar secara merata ke seluruh tubuh dan terakumulasi di otak, ginjal, liver, rambut dan kulit. Ia juga dapat melewati sawar darah-otak (Blood brain barrier), plasenta dan eritrosit sehingga menimbulkan gejala neurologis, teratogenik (cacat janin) dan meningkatkan kekentalan darah.

Fish Containing Mercury

Metil merkuri memiliki waktu paruh yang lama sehingga akan mengalami biomagnifikasi / bioakumulasi dari organism terkecil algae sampai tingkat tertinggi pada rantai makanan, yaitu ikan-ikan besar seperti hiu, King Mackerel, ikan pedang, lumba-lumba dsb.

Artinya jumlah konsentrasi merkuri terkecil ada pada algae dan terbesar misal pada ikan hiu.

Berikut daftar ikan dengan jumlah kandungan merkuri dan aturan untuk komsumsinya terutama pada ibu hamil atau menyusui

Merkuri terendah (<0,09 ppm)

Jenis Ikan            : Ikan teri, lele, udang, salmon, nila, white fish, trout, tuna kalengan

Aturan makan   : Bebas kapan saja

Merkuri sedang (0,09-0,29 ppm)

Jenis Ikan            : Cod Alaska, Halibut, lobster, trout laut

Aturan makan   : max 6x/bulan

Merkuri tinggi (0.3-0,49 ppm)

Jenis Ikan            : Ikan kerapu, Mackerel, Sea Bass, Blue fish, Big Tuna

Aturan makan   : max 3x/bulan

Merkuri tertinggi (>0,5 ppm)

Jenis Ikan            : King Mackerel, marlin, hiu, todak, tile fish

Aturan makan   : Sebaiknya dihindari

Thimerosal in vaccine – Controversy

Thimerosal adalah salah satu jenis dari merkuri yang digunakan sebagai anti bakteri dan pengawet dalam vaksin imunisasi terutama pada vaksin DPT, Influenza dan Hepatitis B

Thimerosal pernah dituduh sebagai penyebab autism dan didukung oleh beberapa penelitian. Akan tetapi IOM (Institute Of Medicine) yang terdiri dari kumpulan ahli dari berbagai disiplin ilmu kemudian melakukan penelitian di kisaran tahun 2003.

Hasilnya, dari 3 studi Epidemiologis (Hviid ; Miller ; Werstraeten) dan 2 studi control (Madsen ; Sters-Green) menyimpulkan bahwa TIDAK ADA HUBUNGAN antara pemberian vaksin dan kejadian autism. Karena autism 90% disebabkan oleh faktor genetic. Penelitian yang mengatakan ada hubungan lemah secara metodologis, mengadung penipuan dan terkesan tidak transparan

Akan tetapi walau tidak terbukti, para ilmuwan masih terus berusaha membuat vaksin yang bisa benar-benar tidak mengandung Thimerosal.

The Cure and Prevention

Chelation therapy

Prinsip dari chelation therapy adalah mengikat ion merkuri dan mengeluarkannya bersama feses/urine. Obat yang biasa dipakai adalah DMPS (2,3 dimercapto – 1 – propanesulfonic acid), Penicillamine, Dimercaprol, dan activated charcoal (karbon)

Recycle

Sebaiknya memang ada semacam daur ulang untuk limbah merkuri

Avoid high mercurial fishes

Pilihlah ikan yang kadar merkurinya paling rendah seperti lele, udang, tuna, salmon, tuna kalengan dan hindari yang kadarnya tinggi seperti pada hiu, King Mackerel, ikan todak dsb

No need to worry J

Merkuri memang sebuah ancaman yang cukup menakutkan, tapi tidak perlu menjadi kekhawatiran yang berlebihan. Intinya adalah pengawasan. Pemerintah beserta rakyat sebaiknya terus saling bahu membahu agar lingkungan tidak tercemar. Stay alert but no need to worry!

Semoga informasi sederhana ini bisa menjadi manfaat

Dedicated for my teacher : Mr. Budi Setiawan (@Bukik)

Hutang saya lunas ya Pak! hehe

Astu Anindya Jati, dr

Gresik, 25 April 2012