Bertandang ke kandang buaya. Sudahkah Anda mempunyai cukup nyali?

Bulan September 2011 yang lalu, saya dan keluarga berkunjung ke sebuah penangkaran buaya di Balikpapan. Tepatnya di Desa Teritip, yang terletak 27 km dari pusat kota Balikpapan (30 menit dengan mobil), 20 menit bila dari Bandara udara Sepinggan.

Penangkaran ini rupanya telah beroperasi sejak tahun 1991 dan resmi menjadi obyek wisata unggulan sejak 1997. Didalamnya ada sekitar 3000 ekor buaya yang terdiri dari 3 spesies utama, buaya muara (Crocodylus Porosus), buaya air tawar dan buaya supit

Pengalaman pertama, ngeri. Karena kita berjalan di lorong-lorong sempit tak beratap sementara kanan dan kiri kandang buaya yang sepertinya dipisahkan berdasarkan umur. Buaya-buaya itu kebanyakan hanya diam membeku sambil membuka mulutnya yang bergerigi. Seperti patung saja

Buaya-buaya ini, selain dijaga untuk dilestarikan juga memang dikembangbiakkan menjadi berbagai komoditi.  Apa saja? Terutama kulitnya. Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah negara pengekspor kulit buaya terbesar di dunia. Pada tahun 2002, 15.228 potong kulit primer dan setengah jadi telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Korea dan Italia. 90% darinya dihasilkan oleh penangkaran buaya yang tersebar di berbagai kota di Nusantara

Asal tau aja harga jual kulit buaya primer atau mentahan mencapai 120 dollar per ekor (1.080.000 rupiah – kurs 9000) sedangkan biaya merawat buaya hingga panen hanya Rp. 500.000,- jadi dengan panen 200 ekor saja keuntungan minimal bisa mencapai kurang lebih 100 juta rupiah per tahun. Subhanalloh

Komoditi lainnya adalah daging buaya (dalam bentuk sate, abon dan kerupuk), gigi buaya untuk asesoris dan simbol keberanian, empedu yang dalam pengobatan Cina kuno dipercaya sebagai obat asma, minyak buaya untuk gatal-gatal dan alergi, dan ini niy yang paling banyak dicari. Ramuan tangkur (alat kelamin) buaya yang dipercaya banyak orang dapat menambah ‘keperkasaan’ pria dewasa.

Fasilitas yang disediakan di tempat ini antara lain, café borneo yang menyediakan menu daging buaya, befoto bersama anak buaya, merasakan sensasi memberi makan buaya (disediakan/dijual bangkai ayam yang masih utuh), juga naik gajah yang berada di sekitar penangkaran. Walau tampak kurang terawat, wisata ini cukup seru dan menghibur.

By the way darimana ya asal kata air mata buaya? Air mata yang penuh kepura-puraan? Ah tidak juga. Air matanya (pengorbanan) telah nyata-nyata menghasilkan jutaan dollar devisa. (AST)

Disediakan bangkai ayam untuk memberi makan buaya

Gigi buaya untuk asesoris


http://www.astumd.wordpress.com