Seperangkat kopi Luwak. Ada press glass, cangkir, biskuit sama jasmine tea

THE SENSATION

Sekitar 1 bulan yang lalu saya mendapat kesempatan untuk berlibur ke Balikpapan. Kota yang kecil tapi sangat makmur, kebanyakan penduduknya adalah pendatang dari Jawa dan Sulawesi yang bekerja sebagai pedagang maupun karyawan.

Perusahaan oil and gas bertebaran. Karena lautnya kaya akan minyak. PDB Balikpapan bisa mencapai 320T Loh!

Nah ini sebenarnya cerita saya pas malam-malam saya mampir ke sebuah Mall baru, Balcony. Mall ini mirip-mirip sama TP3 kalau di Surabaya. Di Mall ini ada sebuah restoran namanya Lagoon yang view nya langsung ke laut. Namun sayang kami datang nya pas malam hari, jadi lautnya ga kelihatan.

Pilih-pilih menu terus waw apa niy? Ada menu kopi Luwak.. hwah kebetulan belum pernah nyoba .. pesenlah saya 1 cangkir seharga 50rb rupiah saja.

Sekitar 20 menit kopi itu datang. Ia tidak sendiri, tapi ditemani alat press, 1 sloki teh jasmine dan 3 pcs biscuit

Kita harus menunggu 15 menit lagi untuk menge press coffee nya agar rasanya tidak berubah. Oke Bismillah.. hmm pahit pahit enak, ada aroma gosongnya dan anehnya sama sekali tidak membuat nyeri lambung. Lembuut sekali.. padahal terlihat kental. Dan bila ini kopi biasa tentu saya sudah mual-mual tidak karuan.

Setelah selesai, the jasmine saya teguk sekaligus untuk menetralkan pahit di pangkal lidah. Mantabz gan!

THE FACTS ABOUT KOPI LUWAK

Kopi luwak ini berawal dari zaman kolonial Belanda dahulu. Zaman cultuur stelsel (tanam paksa) jadi bangsa pribumi (Indonesia) pada saat itu dipaksa untuk menanam kopi sebanyak-banyaknya di daerah Lampung, Bengkulu dan Gayo (Aceh) untuk kemudian hasilnya dikirim ke Negeri van Oranye.

Penjajah kulit putih itu melarang keras pribumi untuk merasakan kopi yang ditanamnya (sadis ya). Rakyat kita hanya bisa ngiler.. kepingin tapi ga boleh.

Akhirnya, Pada suatu hari ada hewan mirip musang yang bernama Luwak (Paradoxurus hermaproditus). Ia hidup di perkebunan kopi dan suka sekali memakan biji kopi langsung dari pohonnya.

Biji kopi melewati saluran cerna Luwak. Enzim proteolitik memecah ikatan peptide menjadi lebih pendek sehingga menghasilkan lebih banyak asam amino bebas. Asam amino inilah yang membuat rasanya begitu khas dan menjadi tidak begitu pahit

Pada saat hewan ini defekasi (membuang *maaf* kotoran) ternyata banyak biji kopi yang masih utuh. Rakyat kita pun memungutnya, membersihkan, menjemur lalu memanggang dan menyeduhnya. Jadilah kopi Luwak yang beraroma khas.

Sampai juga aromanya oleh orang Belanda. Lalu kopi Luwakpun disantapnya sebagai minuman high class yang harganya mahal. The most expensive coffee in the world

Harganya kini 160 US Dollar per ½ kilogram. Waw.. Luwak dapet royalty gak ya? (AST)

Surabaya, 11 Oktober 2011 (8.29 AM)

Twitter : @astu_MD

Facebook/E-Mail  : dr_astu@yahoo.com

Personal Blog : astumd.wordpress.com