sucker punch poster

(Epochtimes.co.id)

Sutradara: Zack Snyder
Pemain: Emily Browning, Abbie Cornish, Jena Malone, Vanessa Hudgens, Jamie Chung
Durasi: 120 menit
Rating: (3.5 / 5)

Zack Snyder, sang sutradara penggarap“300” dan “Watchmen” kembali lagi menghiasi layar lebar. Namun kali ini ia tampil 180 derajat dibandingkan film “300”-nya yang didominasi oleh kaum adam, dan memilih perempuan-perempuan jagoan sebagai tokoh utama dalam film orisinil pertamanya: Sucker Punch.

Yang menjadi tokoh utamanya ialah Baby Doll, yang diceritakan berada di dalam penjara narapidana sakit jiwa akibat mendapat tuduhan palsu telah membunuh adik perempuannya, padahal ketika itu ia justru berusaha melindungi sang adik dari ayah tiri mereka yang jahat. Mengetahui dirinya akan dilobotomi (pembedahan saraf otak untuk mengubah karakter dan kepribadian), ia berusaha melarikan diri bersama dengan empat narapidana perempuan lainnya: Sweet Pea (Abbie Cornish), Rocket (Jena Malone), Blondie(Vanessa Hudgens), dan Amber (Jamie Chung).

Yang menjadi motto film ialah “Ketika penjara menjadi realitas di depan mata, hanya pikiran yang dapat membuat Anda bebas”, seperti pada cerita Baby Doll dan teman-temannya yang melarikan diri dari realitas penjara yang suram menuju petualangan imajinatif.

Sucker Punch adalah sebuah film yang dapat memberikan inspirasi bagi sisi pemberdayaan diri, yang dapat mendorong kita agar tidak perlu takut dalam bermimpi maupun berimajinasi.

Anda mungkin berpikir film ini agak terlalu “ringan” bagi seorang Zack Snyder, namun Snyder dan tim ahlinya bisa dibilang telah sukses menggarap sebuah film orisinil pertama mereka, yang memakan waktu bertahun-tahun.

Dan dari segi kualitas film tidak perlu diragukan lagi, sebab Snyder memiliki tim ahli yang terdiri para personel terbaik di Hollywood, termasuk Rick Carter (memenangkan Academy Award melalui film Avatar), John “DJ” Des Jardin (Watchmen, Matrix Reloaded, Matrix Revolutions) dan sang jenius musik Marius De Vries (Romeo & Juliet, Moulin Rouge).

Sucker Punch dalam beberapa adegan hampir terasa seperti tampilan video game dengan Computer Graphic superior dan sinematografi yang elegan, ketika para jagoan perempuan harus menghadapi musuh-musuhnya mulai dari naga iblis, Nazi, zombie, dan robot futuristik. Dan setiap level musuh ini harus dilalui demi mencapai jimat suci untuk menyelesaikan misi dan mendapatkan kebebasan mereka.

Tampilan film ini secara keseluruhan terlihat sangat bertekstur, namun tetap tanpa kesan berlebihan. Adegan-adegan aksi dikoreograferi dengan baik, dan secara halus dibawa ke alam kehidupan dengan pengiring musik yang menakjubkan, yang mampu memacu adrenalin.

Film ini pas bagi Anda yang ingin menumbuhkan kepercayaan diri untuk melakukan perjalanan berpetualang. Anda akan berjalan keluar dari teater dengan perasaan penuh semangat menggelora, seolah dapat menaklukkan dunia.  (Helena Chao / The Epoch Times / osc)