Tidak semua orang mempunyai keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Hijrah. Fisik dan jiwa menuju kepada sesuatu yang lebih baik demi masa depannya.

3 Oktober 2011 kemarin, kakak ipar saya, Nandi Yanuar Kurniawan bertolak menuju tanah kelahirannya di Balikpapan. Untuk mengadu nasib. Mengupgrade diri dengan sebaik-baiknya dengan harga yang sangat mahal.

Ia harus meninggalkan istrinya yang tengah hamil 4 Bulan, anak pertama. Dimana pada bulan-bulan ke depan sebenarnya istri dan bayinya sangat membutuhkan kehadirannya.

Ah jadi teringat Thariq bin Ziyad waktu memimpin pasukan ke Cordova. Ia membakar semua kapal sehingga pasukannya tidak mempunyai keinginan untuk kembali melainkan membawa kemenangan. Membulatkan tekad dan menghilangkan keraguan.

Begitu juga dengan Nandi, ia berhenti bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi, meninggalkan posisi yang cukup mapan dan  membeli one way ticket and never going home until he succeeded.

Ada rasa kagum dan haru waktu mengantarnya di Bandara Internasional Juanda lalu. Pandanganku mengikutinya saat ia mendorong trolley sambil tersenyum simpul.. entah mencoba menegarkan diri atau memang ia bersemangat menuju hari depan yang lebih baik.

Orang ini hebat. So brave! Sementara orang lain mungkin lebih senang berkubang dalam lumpur atau memakan keju basi seperti dalam who moved my cheese..

Haish.. mataku mulai berkaca-kaca… Sukses untukmu Mas. Akupun juga harus Hijrah..

 

@astu_MD

Surabaya, 4 Oktober 2011 (10.43 AM)